Lara dan Doa di Embarkasi Balikpapan: 14 Tahun Menjemput Panggilan Baitullah

BALIKPAPAN,Inibalikpapan.com — Suasana haru menyelimuti Embarkasi Balikpapan saat para jemaah haji mulai bergerak menuju bus keberangkatan. Di tengah keramaian keluarga yang mengantar, tangis pecah dari seorang perempuan bernama Wita. 

Dengan mata sembab, ia berdiri memandangi kedua orang tuanya yang bersiap berangkat menuju Tanah Suci setelah penantian panjang selama 14 tahun.

Bagi Wita, keberangkatan ini bukan sekadar perjalanan ibadah biasa. Momen tersebut menjadi puncak dari perjuangan panjang orang tuanya yang sejak 2012 telah menabung demi satu cita-cita besar: menunaikan rukun Islam kelima.

“Hari ini saya mengantar kedua orang tua saya, Ibu dan Bapak,” ujar Wita dengan suara bergetar, berusaha menahan haru di sela-sela prosesi pemberangkatan.

Kedua orang tua Wita merupakan pensiunan Aparatur Sipil Negara (ASN). Dengan penghasilan yang terbatas, mereka perlahan menyisihkan tabungan sedikit demi sedikit selama masa pengabdian.

Penantian belasan tahun itu dijalani dengan penuh kesabaran, sambil menjaga harapan agar suatu hari nama mereka benar-benar dipanggil menuju Baitullah.

Di mata Wita, melihat ayah dan ibunya mengenakan seragam jemaah haji menjadi momen yang sulit digambarkan. Seluruh doa yang selama ini dipanjatkan keluarga akhirnya terasa terjawab.

“Rasanya campur aduk. Senang, terharu, juga sedih karena harus melepas mereka pergi jauh,” katanya.

Ia mengaku perjalanan haji orang tuanya menjadi pelajaran tentang arti kesabaran dan keteguhan hati. Menurutnya, ibadah haji bukan hanya soal kesiapan biaya, tetapi juga kesiapan mental untuk menunggu antrean panjang selama bertahun-tahun.

Persiapan Fisik

Di tengah rasa bangga itu, Wita tetap menyimpan kekhawatiran. Ia berharap kedua orang tuanya selalu diberi kesehatan selama menjalani seluruh rangkaian ibadah di Arab Saudi yang dikenal memiliki cuaca ekstrem dan aktivitas fisik yang cukup berat.

“Mudah-mudahan sehat terus, lancar ibadahnya,” ucapnya lirih.

Tangis Wita semakin pecah saat mengucapkan harapan paling sederhana bagi kedua orang tuanya: berangkat bersama dan pulang bersama.

“Pokoknya pergi berdua, pulang juga berdua, insya Allah,” katanya sambil menyeka air mata.

Keberangkatan jemaah haji dari Balikpapan tahun ini memang kembali menghadirkan banyak kisah emosional. Di balik deretan koper, dokumen perjalanan, dan prosesi pelepasan yang tertib, tersimpan cerita tentang perjuangan panjang keluarga-keluarga yang menanti panggilan ke Tanah Suci.

Kisah Wita menjadi salah satu gambaran bahwa ibadah haji bukan hanya perjalanan spiritual bagi para jemaah, tetapi juga perjalanan batin bagi keluarga yang mengantar dan menunggu kepulangan mereka. Di momen itulah, cinta, doa, dan pengabdian seorang anak terasa begitu nyata.***

Tinggalkan Komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses