Perempuan di Industri Migas: Dari Offshore Hingga Tekanan Lapangan, Tantangan Ini Jadi Keseharian
BALIKPAPAN, inibalikpapan.com – Perempuan Indonesia terus menunjukkan taringnya di sektor energi nasional. Dari laut lepas hingga fasilitas di daratan, semangat emansipasi yang dulu digaungkan R.A. Kartini kini terasa nyata—hadir lewat kiprah perempuan di industri hulu migas.
Bekerja di tengah laut bukan hal mudah—apalagi bagi perempuan. Cassanova Istiqomah Walhawanadana merasakannya langsung.
Sebagai Junior Officer HSSE Offshore di Pertamina Hulu Energi Offshore Southeast Sumatra (PHE OSES), ia harus memastikan keselamatan kerja di lingkungan berisiko tinggi, jauh dari daratan.
Gelombang laut, cuaca ekstrem, hingga potensi kecelakaan jadi bagian dari keseharian. Namun justru di situ, Cassanova menemukan makna pekerjaannya.
Bukan hanya soal karier, tapi tanggung jawab besar menjaga operasional tetap aman agar distribusi energi ke masyarakat tidak terganggu.
Dari Lapangan Minas: Adaptasi Keras Dunia Kerja Nyata

Cerita lain datang dari Lapangan Minas, Riau.
Royfa Fenandita Finadzir masih tergolong baru. Tapi tantangan yang dihadapi bukan level pemula.
Sebagai Operator Plant Operations di Pertamina Hulu Rokan (PHR), ia harus terjun langsung di lapangan dengan ritme kerja cepat dan tekanan tinggi.
Adaptasi jadi ujian pertama. Lingkungan kerja yang dinamis menuntut ketelitian, keberanian, dan kemampuan belajar cepat.
Namun dari situ, Royfa justru menemukan kepercayaan diri—bahwa perempuan juga mampu berdiri di garis depan industri energi.
Karier 15 Tahun: Dari Engineer hingga Pimpinan Produksi

Berbeda dengan Royfa, Runi Kusumaning Rusdi sudah merasakan panjangnya perjalanan di industri migas.
Sejak 2008, ia meniti karier dari bawah hingga kini menjadi Superintendent Produksi di Pertamina Hulu Mahakam (PHM).
Perjalanan itu tidak mudah. Mulai dari penugasan lapangan, tekanan operasional, hingga pengalaman internasional.
Bagi Runi, satu hal yang berubah adalah cara pandang industri terhadap perempuan. Kini, kompetensi lebih berbicara daripada gender.
Kisah tiga perempuan ini menjadi gambaran perubahan di industri hulu migas. Kini, perempuan bukan lagi sekadar pelengkap. Mereka hadir sebagai talenta unggul yang aktif di berbagai lini—dari operasional, keselamatan kerja, hingga posisi strategis.
Peluangnya pun terbuka lebar. Perempuan punya ruang yang sama untuk berkembang, berinovasi, dan ikut menjaga keberlanjutan energi nasional.
Industri energi terus berkembang, termasuk di Kalimantan dan wilayah penyangga IKN. Kebutuhan talenta juga meningkat.
Perempuan kini punya peluang yang sama untuk masuk, berkembang, dan memimpin. Bukan lagi soal pembuktian. Tapi soal kontribusi nyata untuk masa depan energi Indonesia.***
BACA JUGA
