Sangkulirang-Mangkalihat Tawarkan Jejak Manusia Purba hingga Geowisata Kelas Dunia

Keindahan Air Terjun Tangga Bidadari di Desa Selangkau menjadi perhatian dalam proses verifikasi Geopark Sangkulirang-Mangkalihat (foto : Pemprov)
Keindahan Air Terjun Tangga Bidadari di Desa Selangkau menjadi perhatian dalam proses verifikasi Geopark Sangkulirang-Mangkalihat (foto : Pemprov)

KUTAI TIMUR, Inibalikpapan.com – Proses verifikasi Geopark Sangkulirang-Mangkalihat memasuki tahap penting. Tim Verifikasi Geopark Nasional meninjau langsung sejumlah geosite unggulan di Kabupaten Kutai Timur, Selasa (7/7/2026), untuk menilai kesiapan kawasan tersebut meraih status Geopark Nasional sebelum melangkah menuju pengakuan sebagai UNESCO Global Geopark.

Verifikasi hari pertama diawali di Galeri Cagar Budaya Kutai Timur, yang menjadi Pusat Informasi Geopark Sangkulirang-Mangkalihat. Dari lokasi ini, tim memperoleh gambaran menyeluruh mengenai kekayaan geologi, sejarah, budaya, hingga kehidupan manusia purba yang menjadi identitas kawasan tersebut.

Pengelola Galeri Cagar Budaya Kutai Timur, Makmur, menjelaskan galeri tersebut menjadi pusat edukasi yang memperkenalkan perjalanan panjang bentang alam karst, kehidupan manusia purba, hingga keberagaman budaya masyarakat yang masih lestari.

47 Situs Cagar Budaya dan Jejak Manusia Prasejarah

Tim verifikasi juga menerima paparan dari Balai Pelestarian Kebudayaan Kalimantan Timur mengenai kekayaan warisan budaya di kawasan Sangkulirang-Mangkalihat.

Hingga kini, telah terdata 47 situs cagar budaya, termasuk lukisan cap tangan prasejarah di dinding gua yang menjadi salah satu bukti penting keberadaan manusia sejak ribuan tahun lalu. Di kawasan ini juga ditemukan fosil satwa purba serta kerangka manusia relatif utuh di Liang Jon yang memperkuat bukti bahwa wilayah tersebut telah dihuni sejak masa prasejarah.

Selain warisan purbakala, galeri juga menampilkan kekayaan budaya masyarakat Dayak, mulai dari artefak tradisional, sejarah Mengayau, hingga ritual Belian yang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia.

Goa Tewet Jadi Ikon Geopark Dunia

Usai mengunjungi pusat informasi, Tim Verifikasi melanjutkan penilaian ke Desa Tepian Langsat, Kecamatan Bengalon.

Salah satu lokasi yang menjadi perhatian adalah Goa Tewet, situs lukisan cap tangan prasejarah yang menjadi ikon Geopark Sangkulirang-Mangkalihat dan dikenal luas di kalangan peneliti dunia.

Kepala Desa Tepian Langsat, Zeky Hamzah, mengatakan masyarakat berkomitmen menjaga kawasan karst melalui pembentukan pos jaga hutan sekaligus mengembangkan Goa Tewet sebagai destinasi wisata berbasis konservasi.

“Kami ingin warisan ini tetap terjaga untuk generasi mendatang,” ujarnya, dikutip dari laman Pemprov.

Pemerintah desa juga menyiapkan pembangunan dermaga untuk memudahkan akses wisatawan menuju Goa Tewet tanpa mengurangi prinsip pelestarian kawasan.

Selain itu, kawasan karst diusulkan menjadi hutan lindung agar perlindungan terhadap situs-situs bersejarah semakin kuat sekaligus mendukung pengembangan pariwisata berkelanjutan.

UMKM Ikut Tumbuh Bersama Geopark

Desa Tepian Langsat juga dipersiapkan sebagai gerbang wisata menuju Geopark Sangkulirang-Mangkalihat.

Berbagai produk UMKM, seperti amplang Bengalon dan kerajinan bertema lukisan cadas prasejarah, dipamerkan sebagai bagian dari pengembangan ekonomi masyarakat berbasis geopark dengan mengusung slogan “Bumi Kita, Warisan Kita”.

Air Terjun Tangga Bidadari Simpan Sejarah Laut Purba

Perjalanan verifikasi berlanjut ke Air Terjun Tangga Bidadari di Desa Selangkau, Kecamatan Kaliorang.

Geosite ini ditetapkan sebagai warisan geologi pada 2024 dan menjadi salah satu lokasi penting dalam pengembangan Geopark Sangkulirang-Mangkalihat. Tim menilai aspek geologi, keanekaragaman hayati, hingga keterlibatan masyarakat dalam pengelolaannya.

Secara geologi, Air Terjun Tangga Bidadari terbentuk sekitar 11–16 juta tahun lalu. Kawasan ini tersusun atas lapisan batu gamping dan batuan napal yang menyimpan fosil mikroorganisme laut, menandakan wilayah tersebut dahulu merupakan dasar laut sebelum terangkat akibat proses tektonik. Bahkan, rembesan minyak bumi yang muncul di sela batuan menjadi bukti adanya migrasi fluida dari bawah permukaan bumi.

Selain menjadi laboratorium alam, kawasan ini juga diharapkan mampu meningkatkan perekonomian masyarakat melalui pengembangan wisata edukasi dan potensi komoditas lokal, seperti budidaya pisang yang telah menjadi mata pencaharian warga.

Dengan kekayaan geologi, jejak manusia purba, budaya masyarakat adat, hingga keterlibatan aktif masyarakat dalam konservasi dan pengembangan ekonomi lokal, Sangkulirang-Mangkalihat dinilai memiliki modal kuat untuk meraih status Geopark Nasional dan melanjutkan langkah menuju pengakuan sebagai UNESCO Global Geopark.

Editor : Abraham Johan

Tinggalkan Komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses