Tak Sekadar Baca Buku, Dispustakar Balikpapan Kenalkan Sejarah Kota Lewat Galeri Arsip

BALIKPAPAN,Inibalikpapan.com — Upaya meningkatkan budaya literasi di Kota Balikpapan kini tidak hanya dilakukan melalui buku dan aktivitas membaca. 

Dinas Perpustakaan dan Arsip (Dispustakar) Balikpapan memperluas ruang belajar masyarakat dengan menghadirkan Galeri Arsip sebagai sarana mengenal sejarah dan perjalanan Kota Balikpapan.

Galeri Arsip tersebut menjadi salah satu fasilitas yang diperkenalkan dalam mini festival literasi yang digelar Dispustakar Balikpapan pada 3–5 September 2026. Kegiatan itu merupakan bagian dari rangkaian Bulan Gemar Membaca yang diperingati setiap September.

Kepala Dispustakar Kota Balikpapan Neny Dwi Winahyu mengatakan, keberadaan galeri arsip diharapkan dapat membuat masyarakat lebih dekat dengan sejarah daerahnya.

“Galeri Arsip ini kami hadirkan sebagai ruang pembelajaran. Masyarakat bisa melihat dan mengenal sejarah Kota Balikpapan melalui arsip yang kita miliki,” kata Neny, Kamis (3/9/2026).

Menurutnya, literasi tidak semata-mata berkaitan dengan kemampuan membaca buku. Lebih dari itu, literasi juga mencakup kemampuan masyarakat memahami informasi, mengenali sejarah, serta mengambil pelajaran dari berbagai sumber pengetahuan.

Karena itu, Dispustakar berupaya menghadirkan perpustakaan dan layanan arsip sebagai ruang belajar yang dapat dimanfaatkan berbagai kelompok masyarakat.

“Bukan hanya anak-anak atau pelajar, tetapi masyarakat umum, sekolah dan komunitas juga bisa memanfaatkan fasilitas ini,” ujarnya.

Untuk kunjungan kelompok, khususnya sekolah dan komunitas, pengelola menyarankan agar terlebih dahulu menyampaikan surat pemberitahuan. Langkah tersebut dilakukan agar waktu kunjungan dapat diatur sehingga kegiatan belajar dapat berlangsung lebih optimal.

Selain Galeri Arsip, mini festival literasi juga menghadirkan berbagai kegiatan yang mendorong masyarakat berinteraksi langsung dengan dunia literasi. Di antaranya lomba cerdas cermat literasi tingkat SMP dan MTs, bazar buku dan alat tulis kantor, pelatihan literasi digital bersama Indosat, serta bedah buku karya penulis lokal Balikpapan.

Bazar buku juga menjadi salah satu daya tarik bagi masyarakat. Dispustakar menyediakan buku dengan harga terjangkau, termasuk sejumlah buku dengan harga di bawah Rp100 ribu. Untuk buku terbitan baru, tersedia diskon khusus sebesar 15 persen.

“Buku-buku yang tersedia ada yang harganya di bawah Rp100.000. Untuk buku-buku terbitan baru juga ada diskon khusus 15 persen,” jelas Neny.

Rangkaian kegiatan juga diramaikan bazar UMKM yang menyediakan makanan dan produk lokal. Dengan demikian, kegiatan literasi dikemas agar tidak hanya berlangsung dalam suasana formal, tetapi menjadi ruang interaksi masyarakat.

Neny berharap kegiatan tersebut dapat berkembang menjadi agenda literasi yang berkelanjutan. Menurutnya, mini festival yang digelar saat ini diharapkan menjadi embrio bagi semakin banyak kegiatan literasi di Balikpapan.

“Harapannya minat baca dan pengetahuan masyarakat, khususnya anak-anak, semakin meningkat sebagai bagian dari persiapan menuju Indonesia Emas 2045,” katanya.

Ia menilai penguatan literasi sejak usia dini menjadi investasi penting. Anak-anak tidak cukup hanya memiliki kemampuan membaca, tetapi juga perlu memiliki daya kritis dan kemampuan memilah informasi.

Dengan menggabungkan buku, teknologi, karya penulis lokal, hingga arsip sejarah, Dispustakar ingin membangun budaya belajar yang lebih dekat dengan kehidupan masyarakat.

Literasi pun diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial setiap tahun, tetapi tumbuh menjadi kebiasaan yang dilakukan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.(***/Adv Diskominfo Balikpapan).

Penulis : Dani/Samsul

Editor : Ramadani

Tinggalkan Komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses