2025 Layanan Perpustakaan Langsung dan Digital Balikpapan Tembus 116 Ribu Pengunjung

Pembukaan Hari Kunjung Perpustakaan dan Bulan Gemar Membaca 2026 yang digelar Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (Dispustakar) Kota Balikpapan, 3–5 September 2026. (foto : Inibalikpapan/Samsul)
Perpustakaan Balikpapan

BALIKPAPAN, Inibalikpapan.com — Budaya membaca di Balikpapan mulai diarahkan ke level yang lebih luas. Perpustakaan tidak lagi sekadar menjadi tempat mencari dan membaca buku, tetapi didorong menjadi ruang bagi anak untuk berdiskusi, berpikir kritis, berani menyampaikan pendapat, hingga memanfaatkan teknologi secara bijak.

Pesan itu mengemuka dalam rangkaian Hari Kunjung Perpustakaan dan Bulan Gemar Membaca 2026 yang digelar Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (Dispustakar) Kota Balikpapan, Kalimantan Timur, 3–5 September 2026.

Mengusung konsep mini festival literasi, kegiatan di Kantor Dispustakar Balikpapan itu menghadirkan beragam aktivitas. Mulai bazar buku murah, bazar UMKM, pameran karya penulis lokal, lomba cerdas cermat literasi, pelatihan literasi digital, hingga bedah buku.

Literasi Harus Membentuk Karakter dan Keberanian

Bunda Literasi Kota Balikpapan, Hj Nurlena Rahmad Mas’ud, menegaskan bahwa literasi tidak boleh dimaknai sebatas kemampuan membaca dan menulis.

Menurutnya, budaya literasi memiliki peran penting dalam membentuk karakter sekaligus keberanian anak untuk menyampaikan gagasan.

“Literasi itu bukan hanya ilmu yang kita cari. Tetapi bagaimana membentuk karakter kita, membentuk keberanian kita,” ujar Nurlena saat membuka kegiatan, Kamis (3/9/2026).

Ia mencontohkan lomba cerdas cermat literasi sebagai salah satu sarana untuk melatih keberanian pelajar tampil di depan publik.

Bagi Nurlena, kecerdasan akademik perlu berjalan beriringan dengan kemampuan berkomunikasi. Pelajar tidak hanya dituntut mengetahui jawaban, tetapi juga harus berani menyampaikan pemikiran di hadapan orang lain.

“Walaupun salah tidak apa-apa, tetapi bagaimana kita berani menghadapi audiens,” katanya.

Pesan tersebut menjadi penting di tengah perkembangan teknologi yang membuat akses terhadap informasi semakin mudah. Pelajar dituntut bukan hanya mampu mendapatkan informasi, tetapi juga mampu memilah, memahami, dan menggunakannya secara bertanggung jawab.

“Kita hadir bukan sekadar membuka sebuah perlombaan. Tetapi kita hadir sebagai generasi yang cerdas, kritis, kreatif, dan berkarakter,” tegasnya.

30 Tim Pelajar Adu Pengetahuan Literasi

Kepala Dispustakar Kota Balikpapan, Neny Dwi Winahyu, mengatakan September ditetapkan sebagai Bulan Gemar Membaca, sedangkan 14 September diperingati sebagai Hari Kunjung Perpustakaan.

Salah satu agenda utama tahun ini adalah lomba cerdas cermat literasi yang diikuti 30 tim pelajar SMP dan sederajat dari sekolah negeri maupun swasta.

Setiap tim beranggotakan tiga peserta. Setelah melewati babak penyisihan, sembilan tim terbaik akan berhak melaju ke babak final.

Tak hanya menguji pengetahuan, kompetisi tersebut juga menjadi ruang bagi pelajar untuk membangun kepercayaan diri dan kemampuan berkomunikasi.

Dispustakar juga menggelar pelatihan literasi digital yang menyasar pelajar SD dan SMP. Kegiatan ini diikuti sekitar 130 peserta.

Rangkaian agenda kemudian dilanjutkan dengan bedah buku yang menghadirkan penulis lokal Balikpapan.

Kunjungan Perpustakaan Tembus 116 Ribu

Di balik rangkaian kegiatan tersebut, Dispustakar Balikpapan mencatat tren positif dalam pemanfaatan layanan perpustakaan.

Sepanjang 2025, jumlah kunjungan ke layanan perpustakaan, baik secara langsung maupun digital, mencapai sekitar 116.000 pengunjung.

Sementara hingga Juni 2026, jumlah kunjungan sudah mencapai sekitar 62.000 pengunjung. Artinya, dalam enam bulan pertama tahun ini, capaian kunjungan telah melampaui separuh total kunjungan sepanjang 2025.

Angka tersebut menjadi salah satu indikator bahwa minat masyarakat terhadap layanan perpustakaan masih memiliki ruang untuk terus dikembangkan, terutama dengan memperkuat layanan berbasis digital.

Dispustakar juga memperluas akses literasi melalui tujuh perpustakaan kelurahan dan taman bacaan masyarakat yang tersebar di 20 kelurahan.

Neny mengatakan, secara bertahap taman bacaan tersebut diarahkan untuk bertransformasi menjadi perpustakaan umum sekaligus memperoleh akreditasi dari Perpustakaan Nasional.

Langkah itu menunjukkan bahwa penguatan budaya literasi tidak cukup dilakukan melalui kegiatan seremonial. Dibutuhkan akses yang lebih dekat, layanan yang relevan dengan perkembangan zaman, serta kebiasaan membaca yang terus dipelihara.

Bagi pelajar Balikpapan, perpustakaan pada akhirnya bukan hanya tempat menemukan buku. Perpustakaan juga dapat menjadi ruang untuk menemukan pengetahuan, menguji gagasan, belajar berdiskusi, dan membangun keberanian menghadapi dunia yang semakin digital.

Penulis : Samsul

Editor : Abraham Johan

Tinggalkan Komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses