Udara Mulai Membaik, Tapi 688 Hotspot Karhutla Masih Terdeteksi di Indonesia

Tim Satgas Karhutla Satbrimob Polda Kaltim Padamkan Karhutla 2,5 Hektare di Kutai Kartanegara
Tim Satgas Karhutla Satbrimob Polda Kaltim menyemprotkan air ke titik api saat memadamkan kebakaran lahan gambut seluas 2,5 hektare di areal PT Jaya Mandiri Sukses, Desa Muara Leka, Kecamatan Muara Muntai, Kabupaten Kutai Kartanegara, Rabu (2/9/2026). Foto: inibalikpapan/Samsul

JAKARTA, Inibalikpapan.com – Kualitas udara di sejumlah wilayah terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai membaik. Namun, ancaman karhutla belum sepenuhnya mereda setelah 688 hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi (high confidence) masih terdeteksi hingga 3 September 2026.

Kementerian Kehutanan (Kemenhut) menyebut zona kualitas udara Sangat Tidak Sehat atau kategori merah berdasarkan pemantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terus menyusut.

Saat ini, zona merah hanya tersisa di sebagian kecil wilayah Kalimantan Barat. Sementara sebagian besar wilayah Indonesia berada pada kategori kualitas udara Baik hingga Sedang.

Meski demikian, zona Tidak Sehat masih mendominasi sejumlah wilayah Kalimantan dan sebagian kecil Sumatera bagian barat.

688 Hotspot High Confidence Terdeteksi

Data sistem pemantauan SiPongi Kemenhut berbasis satelit NASA Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA-20 per 3 September 2026 pukul 21.19 WIB mencatat 688 hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi.

Pemantauan intensif kini difokuskan pada tujuh wilayah yang menjadi perhatian utama, yakni:

  • Kalimantan Barat
  • Kalimantan Tengah
  • Kalimantan Selatan
  • Kalimantan Timur
  • Sumatera Selatan
  • Riau
  • Jambi

Kemenhut menegaskan hotspot merupakan indikasi titik panas yang terdeteksi melalui penginderaan satelit dan tidak otomatis berarti kebakaran aktif.

Namun, data tersebut menjadi dasar bagi tim gabungan untuk melakukan verifikasi langsung atau ground check dan menentukan respons penanganan di lapangan.

53 Armada Udara Dikerahkan

Penanganan karhutla dilakukan melalui Satgas Gabungan yang melibatkan Manggala Agni Kemenhut, TNI, Polri, BNPB, BMKG, BPBD, masyarakat peduli api, serta pemangku kepentingan lainnya.

Sebanyak 53 unit armada udara dikerahkan untuk mendukung penanganan karhutla.

Dari jumlah tersebut, 19 unit digunakan untuk patroli udara dan mendukung Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Sementara 34 unit difokuskan untuk pemadaman melalui water bombing, terutama pada titik kebakaran yang sulit dijangkau pasukan darat.

OMC juga terus dioptimalkan pada wilayah dan waktu yang memenuhi kriteria meteorologis untuk memicu terbentuknya awan hujan.

Kalbar Masih Jadi Titik Perhatian

Meskipun kualitas udara secara umum menunjukkan perbaikan, Kalimantan Barat masih menjadi wilayah yang perlu mendapat perhatian serius.

Zona kualitas udara sangat tidak sehat masih ditemukan di sebagian wilayah Kalbar, sementara sejumlah wilayah Kalimantan lainnya masih berada dalam kategori tidak sehat.

Kondisi ini membuat upaya pemadaman dan pencegahan tetap harus berjalan bersamaan. Perbaikan kualitas udara belum menjadi alasan untuk menurunkan kewaspadaan terhadap potensi munculnya titik api baru.

Kemenhut mengimbau masyarakat dan pelaku usaha tidak melakukan pembakaran lahan, terutama di tengah kondisi cuaca yang masih kering.

Pemerintah juga meminta seluruh pihak ikut menjaga agar tren perbaikan kualitas udara tidak kembali berbalik akibat munculnya karhutla baru.

Sumber : Kemenhut

Editor : Abraham Johan

Tinggalkan Komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses