BPBD Balikpapan Waspadai Dampak El Nino, Ancaman Karhutla dan Krisis Air Jadi Fokus Utama

Kepala BPBD Balikpapan Usman Ali

BALIKPAPAN,Inibalikpapan.com — Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Balikpapan mulai meningkatkan kewaspadaan menghadapi potensi dampak fenomena El Nino yang diprediksi terjadi pada pertengahan hingga akhir 2026.


Ancaman kekeringan, berkurangnya pasokan air bersih, hingga meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menjadi perhatian utama pemerintah daerah.


Kepala BPBD Balikpapan, Usman Ali, mengatakan pihaknya telah melakukan berbagai langkah antisipasi melalui koordinasi bersama TNI, Polri, pemerintah kecamatan, kelurahan, serta unsur masyarakat.


Menurutnya, edukasi kepada warga terus diperkuat, terutama terkait pentingnya penghematan penggunaan air dan larangan melakukan pembakaran sampah. Maupun pembukaan lahan dengan cara dibakar.


“Kalau di Balikpapan kami sudah melakukan imbauan kepada masyarakat dalam menghadapi El Nino. Artinya penghematan penggunaan air, kemudian masyarakat diharapkan tidak bakar-bakar sampah di sekitar rumah, apalagi membakar untuk membuka lahan,” ujar Usman, Kamis (14/5/2026).


Berdasarkan prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), dampak El Nino diperkirakan mulai terasa pada Juli hingga September 2026. Kondisi tersebut berpotensi memicu musim kemarau lebih panjang dan penurunan curah hujan di sejumlah wilayah, termasuk Balikpapan.


BPBD menilai salah satu dampak yang perlu diantisipasi ialah potensi terganggunya distribusi air bersih bagi masyarakat. Pasalnya, saat musim kemarau panjang, kapasitas sumber air baku dapat mengalami penurunan.


“Kita takutnya kekeringan. Artinya PDAM tidak bisa menyuplai air secara maksimal, itu yang menjadi kekhawatiran,” katanya.


Meski demikian, Usman memastikan suplai air di Balikpapan saat ini tidak hanya bergantung pada waduk. Pemerintah juga memanfaatkan sejumlah Instalasi Pengolahan Air (IPA) berbasis air tanah milik Perumda Tirta Manuntung Balikpapan untuk membantu memenuhi kebutuhan masyarakat.

Ancaman Krisis Air


Selain ancaman krisis air, BPBD juga meningkatkan pengawasan terhadap potensi karhutla yang kerap terjadi saat musim kemarau. Wilayah Balikpapan Barat dan Balikpapan Timur disebut menjadi kawasan paling rawan. Terutama daerah Kariangau yang masih memiliki hamparan hutan cukup luas.


“Yang sering terbakar itu daerah Barat dan Timur. Di Kariangau masih ada kawasan hutan yang perlu menjadi perhatian,” ujarnya.


BPBD juga mewaspadai kebakaran pada lahan yang mengandung batu bara karena penanganannya lebih sulit dibanding kebakaran biasa. Api dapat menyala di bawah permukaan tanah. Sehingga memerlukan proses pendinginan dan penggalian secara intensif.


Untuk mendukung penanganan karhutla, BPBD Balikpapan saat ini mengandalkan enam sektor pemadam yang dinilai masih mampu menjangkau titik-titik rawan kebakaran di wilayah kota.


Melalui kesiapsiagaan sejak dini, BPBD berharap masyarakat ikut berperan aktif menjaga lingkungan dengan tidak melakukan pembakaran liar, menghemat penggunaan air. Serta segera melaporkan apabila menemukan titik api di sekitar permukiman maupun kawasan hutan.(***/Adv Diskominfo Balikpapan).

Tinggalkan Komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses