Carbon Trading Kaltim Tembus US$89 Juta, Hutan Jadi Mesin Ekonomi Baru
SAMARINDA, Inibalikpapan.com – Hutan Kalimantan Timur tak lagi sekadar sumber kayu, tetapi kini menjadi tulang punggung ekonomi hijau melalui perdagangan karbon (carbon trading) yang nilainya mencapai puluhan juta dolar Amerika Serikat.
Gubernur Kalimantan Timur, Rudy Mas’ud, mengungkapkan bahwa potensi hutan di Benua Etam telah berkembang menjadi aset strategis dalam menekan emisi sekaligus menghasilkan pendapatan daerah.
“Carbon trading Kaltim bahkan sudah menjadi barometer di kawasan Asia Pasifik,” tegasnya.
Dari Hutan ke Pasar Karbon Global
Perdagangan karbon merupakan mekanisme yang memberikan nilai ekonomi pada setiap penurunan atau penyerapan emisi gas rumah kaca.
Dengan luas kawasan hutan yang besar, Kalimantan Timur kini diposisikan sebagai salah satu pusat perdagangan karbon berbasis solusi alam (nature-based solutions), termasuk restorasi hutan, mangrove, dan lahan gambut.
Sekitar 4,5 juta hektare wilayah daratan telah diprioritaskan untuk konservasi, dengan potensi stok karbon mencapai 35–58 persen dari total wilayah.
Mangrove Jadi Andalan “Karbon Biru”
Tak hanya hutan daratan, kawasan pesisir Kaltim juga menyimpan potensi besar melalui konsep blue carbon atau karbon biru.
Wilayah mangrove di Berau, Kutai Kartanegara, dan Paser menjadi target utama pengembangan ekonomi karbon baru yang dinilai mampu memberikan manfaat ekologis sekaligus finansial.
Capaian Emisi dan Insentif Global
Keberhasilan menjaga tutupan hutan membawa Kaltim menjadi salah satu daerah terdepan dalam program penurunan emisi berskala internasional.
Capaian pengurangan emisi tercatat mencapai 22 hingga 30 juta ton CO2 ekuivalen (CO2eq).
Angka tersebut juga membuka akses terhadap berbagai insentif global, termasuk kompensasi dari program Forest Carbon Partnership Facility-Carbon Fund (FCPF-CF) yang didukung Bank Dunia.
Hutan Jadi Sumber Pendapatan Baru
Menurut Gubernur, manfaat ekonomi dari hutan kini semakin nyata. Program perdagangan karbon telah menghasilkan sekitar 89 juta dolar AS, sekaligus melibatkan masyarakat hingga tingkat desa dan kawasan pesisir.
“Potensi hutan kita sangat besar untuk perdagangan karbon dan memberikan manfaat langsung bagi masyarakat,” ujarnya.
Masa Depan Ekonomi Hijau Kaltim
Transformasi hutan menjadi sumber ekonomi berbasis karbon menunjukkan arah baru pembangunan Kalimantan Timur yang lebih berkelanjutan.
Selain menjaga lingkungan, pendekatan ini juga membuka peluang investasi, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, serta memperkuat posisi Indonesia dalam pasar karbon global.
Sumber : Pemprov
BACA JUGA
