Desa Wisata Ketapanrame Raup Laba hingga Rp4 Miliar, Warga Kini Dapat Dividen Bulanan
MOJOKERTO, inibalikpapan.com – Desa Wisata Ketapanrame di Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto, berubah dari kawasan pegunungan biasa menjadi mesin ekonomi warga. Lewat wisata alam dan investasi gotong royong masyarakat, desa ini mampu menghasilkan laba miliaran rupiah setiap tahun.
Di lereng Gunung Penanggungan dan Gunung Welirang, warga Desa Ketapanrame tidak hanya menjadi penonton perkembangan wisata. Mereka ikut menanam modal melalui program urun dana yang dikelola BUMDes.
Dari total 229 desa di Kabupaten Mojokerto, terdapat 13 desa wisata yang berada di Kecamatan Trawas. Salah satunya Desa Ketapanrame yang mengelola destinasi wisata Sumber Gempong dan Taman Ghanjaran di Dusun Sukarame. Desa Ketapanrame sendiri dihuni sekitar 5.600 jiwa.
Setiap kepala keluarga diberi kesempatan membeli hingga 10 slot investasi dengan nilai Rp1 juta per slot. Dari skema itu, terkumpul dana sekitar Rp4,6 miliar yang digunakan untuk mengembangkan dua destinasi wisata desa.
Kepala Desa Ketapanrame Zainul Arifin mengatakan, langkah tersebut membuat masyarakat ikut merasakan langsung hasil pengembangan wisata.
“Warga yang ikut investasi bisa memperoleh dividen minimal Rp500 ribu per bulan. Saat musim libur dan Lebaran, keuntungannya bahkan bisa mencapai Rp3,5 juta,” ujarnya saat menerima kunjungan Bank Indonesia Balikpapan bersama wartawan ekonomi Balikpapan.
Menurutnya, sebagian besar warga sebelumnya hanya mengandalkan pertanian dan aktivitas ekonomi skala kecil. Padahal desa yang berada di ketinggian 800 hingga 1.200 meter di atas permukaan laut itu memiliki potensi alam yang besar.
Dari Lereng Gunung Jadi Destinasi Favorit Wisatawan

Desa Ketapanrame mulai dikembangkan sebagai desa wisata sejak 2020 melalui SK Bupati Mojokerto. Salah satu destinasi unggulannya adalah wisata Sumber Gempong di Dusun Sukarame.
Kawasan tersebut menawarkan panorama persawahan, udara pegunungan, hingga wisata edukasi kopi khas Trawas. Saat hari biasa, jumlah pengunjung mencapai 200 hingga 300 orang per hari. Ketika akhir pekan dan libur panjang, wisatawan bisa membludak hingga 2.000 orang.
Menariknya, tiket masuk wisata ini masih tergolong murah. Pengunjung hanya membayar Rp8 ribu untuk dewasa dan Rp5 ribu bagi anak-anak.
Selain panorama alam, kawasan ini juga memiliki nilai sejarah yang kuat. Zainul menyebut wilayah tersebut sejak masa Airlangga dikenal sebagai kawasan ritual dan spiritual.
“Di sini banyak situs bersejarah, termasuk Pemandian Gendol yang memiliki sumber air suci dan sering dikunjungi masyarakat dari Bali,” katanya.
Kopi Trawas Jadi Oleh-Oleh Andalan

BUMDes Ketapanrame juga mengembangkan kopi khas Trawas yang ditanam di lereng Gunung Welirang. Terdapat dua jenis kopi yang dipasarkan, yakni Arabika dan Robusta.
Produk kopi itu kini menjadi salah satu oleh-oleh favorit wisatawan. Pengelolaannya dilakukan langsung oleh BUMDes dan telah mendapat dukungan legalitas halal dari Bank Indonesia KPw Jawa Timur.
“Kopi ini sebenarnya sudah ada sejak zaman Belanda. Sekarang kami kembangkan lagi agar punya nilai ekonomi lebih besar bagi warga,” ujarnya.
BUMDes Cetak Miliaran Rupiah

Keberhasilan wisata desa membuat BUMDes Ketapanrame mencatatkan keuntungan besar. Pada 2024, laba bersih mencapai sekitar Rp4 miliar.
Sementara pada 2025 turun menjadi Rp2 miliar dan ditargetkan kembali meningkat pada 2026 menjadi Rp2,3 miliar.
Desa Ketapanrame juga meraih penghargaan Desa Wisata Terbaik Nasional 2023 dari Kementerian Pariwisata serta penghargaan desa wisata terbaik dari Kementerian Desa dan PDT.
Dukungan pengembangan desa wisata turut datang dari Bank Indonesia sejak 2024, mulai dari pembangunan prasarana, alat pengolahan sampah hingga bantuan peralatan bagi petani kopi.
Dalam kunjungan tersebut, rombongan wartawan ekonomi Balikpapan bersama Deputi Kepala Perwakilan BI Balikpapan Umran Usman juga berkesempatan mencicipi minuman Mica berbahan jeruk Nagami khas Ketapanrame.
Model pengembangan Desa Ketapanrame dinilai menarik karena melibatkan masyarakat sebagai investor sekaligus pelaku ekonomi wisata.
Konsep seperti ini dinilai berpotensi menjadi inspirasi pengembangan desa wisata di berbagai daerah, termasuk kawasan penyangga IKN yang mulai mendorong ekonomi berbasis komunitas dan wisata lokal.
BACA JUGA
