Rendemen Sawit Paser Masih Rendah, Pelatihan Budidaya Ini Dibidik Dongkrak Pendapatan Petani

Pelatihan Teknis Budidaya Kelapa Sawit Paser
Peserta Pelatihan Teknis Budidaya Kelapa Sawit asal Kabupaten Paser mengikuti sesi materi Program SDMP 2026 di Balikpapan. Foto: Ist

BALIKPAPAN, Inibalikpapan.com – Rendemen kelapa sawit di Kabupaten Paser masih berada di bawah 25 persen, padahal potensi idealnya bisa mencapai 25 hingga 32 persen. Selisih kecil itu berdampak besar terhadap jumlah minyak sawit yang dihasilkan dan pendapatan yang diterima petani.

Karena itu, peningkatan kualitas budidaya menjadi fokus utama dalam Pelatihan Teknis Budidaya Kelapa Sawit yang diikuti 298 pekebun asal Kabupaten Paser di Balikpapan pada Minggu-Jumat, (2–7/8/2026).

Program yang merupakan bagian dari Pengembangan SDM Perkebunan (SDMP) 2026 ini diselenggarakan Akademi Komunitas Perkebunan Yogyakarta (AKPY) dengan dukungan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dan Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun).

Rendemen Menentukan Nilai Ekonomi Hasil Panen

Banyak petani masih mengukur keberhasilan kebun dari banyaknya tandan buah segar (TBS) yang dipanen. Padahal, kualitas buah dan rendemen minyak menjadi faktor utama yang menentukan nilai jual hasil panen.

Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Kabupaten Paser, Djoko Bawono, mengatakan produksi TBS yang tinggi belum tentu memberi keuntungan maksimal. Rendemen minyak yang masih rendah membuat nilai hasil panen belum optimal.

“Kalau berbicara produksi tanpa memperhatikan rendemen, sama saja. Karena rendemen inilah yang menentukan berapa banyak CPO yang dihasilkan,” katanya.

Menurut Djoko, rata-rata rendemen sawit di Kabupaten Paser saat ini masih di bawah 25 persen. Pemerintah daerah menargetkan produktivitas kebun rakyat dapat menembus lebih dari 30 ton TBS per hektare per tahun melalui penerapan teknik budidaya yang benar.

“Target kita minimal produktivitas kebun bisa mencapai 30 ton per hektare per tahun. Ilmu yang diperoleh dari pelatihan ini harus diterapkan ketika kembali ke kebun,” ujarnya.

Budidaya yang Tepat Dimulai dari Benih hingga Perawatan

Wakil Direktur AKPY, Dr. Idum Satia Santi, S.P., M.P., menjelaskan peningkatan kualitas panen tidak bisa dilakukan hanya saat proses panen. Hasil yang baik ditentukan sejak awal budidaya melalui penerapan Good Agricultural Practices (GAP) secara konsisten.

Menurutnya, pengalaman petani di lapangan perlu dipadukan dengan hasil penelitian agar setiap keputusan dalam mengelola kebun lebih efektif.

“Petani mungkin sudah bertahun-tahun mengelola kebun, tetapi pengalaman itu perlu dikorelasikan dengan data dan hasil penelitian. Dengan begitu petani memahami mengapa harus menggunakan benih unggul, bagaimana pemupukan yang benar, hingga pentingnya menjaga kesehatan tanah,” ujarnya.

Selama pelatihan, peserta mempelajari penggunaan benih unggul, pemupukan berimbang, pemanfaatan pupuk organik, dan pengendalian OPT. Mereka juga mempelajari penggunaan pestisida secara bijak serta pelestarian serangga penyerbuk sebagai bagian ekosistem kebun.

Menurut Idum, penerapan GAP tidak hanya meningkatkan produktivitas tanaman, tetapi juga membantu petani menggunakan pupuk, tenaga kerja, dan sarana produksi secara lebih efisien sehingga biaya budidaya dapat ditekan.

Belajar Langsung di Perkebunan

Selain mengikuti pembelajaran di kelas, peserta juga melakukan praktik lapangan di perkebunan PT Waru Kaltim Plantation (WKP) dan PT Sukses Tani Nusasubur (STN). Kedua perusahaan tersebut merupakan bagian dari PT Astra Agro Lestari.

Di lokasi tersebut, peserta melihat secara langsung penerapan teknik budidaya yang menghasilkan tanaman sehat, produktif, dan mampu menghasilkan TBS berkualitas tinggi.

Pelatihan budidaya tahun ini dilaksanakan dalam 10 kelas dan menjadi lanjutan dari lima kelas pelatihan panen serta pascapanen yang telah digelar sebelumnya. Secara keseluruhan, sebanyak 556 pekebun asal Kabupaten Paser telah mengikuti program peningkatan kompetensi yang didukung BPDP dan Ditjenbun.

Melalui pelatihan berkelanjutan ini, diharapkan semakin banyak pekebun mampu meningkatkan kualitas TBS dan rendemen minyak. Dengan begitu, nilai jual hasil panen meningkat sehingga pendapatan keluarga petani sawit di Kabupaten Paser ikut bertambah.***

Sumber: Akademi Komunitas Perkebunan Yogyakarta (AKPY)
Editor: Rizki

Tinggalkan Komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses