Hotspot Kahutla Kalteng Melonjak, Kalbar Turun Drastis: 53 Armada Udara Disiagakan

Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Selatan belum mereda
Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Selatan belum mereda (foto : Kemenhut)

JAKARTA, Inibalikpapan.com — Pengendalian kebakaran hutan dan lahan (kahutla) masih menghadapi situasi yang dinamis. Di tengah penurunan hotspot di empat provinsi prioritas, Kalimantan Tengah justru mencatat kenaikan signifikan pada titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi (high confidence).

Data SiPongi Kementerian Kehutanan yang bersumber dari satelit NASA Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA-20 mencatat 397 hotspot high confidence secara nasional pada Selasa, 8 September 2026 pukul 21.10 WIB.

Angka tersebut naik tipis 11 titik dibandingkan sehari sebelumnya yang mencapai 386 titik.

Dari enam provinsi yang menjadi prioritas pengendalian kahutla, Sumatera Selatan masih mencatat hotspot terbanyak dengan 76 titik, disusul Kalimantan Tengah 63 titik, Kalimantan Barat 12 titik, Riau 8 titik, Kalimantan Selatan 6 titik, dan Jambi 3 titik.

Hotspot Kalteng Naik 37 Persen

Kalimantan Tengah menjadi salah satu wilayah yang mendapat perhatian serius. Hotspot high confidence di provinsi tersebut naik dari 46 menjadi 63 titik, atau bertambah 17 titik dalam sehari.

Kenaikan itu terjadi ketika hujan hasil Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) telah mendukung pembasahan di sebagian wilayah Kalimantan Tengah.

Kondisi tersebut menunjukkan hujan belum serta-merta mengakhiri ancaman karhutla. Pada wilayah yang masih menyimpan api aktif maupun bara di bawah permukaan, terutama kawasan gambut, potensi munculnya kembali titik api tetap harus diantisipasi.

Sebaliknya, perkembangan cukup positif terlihat di Kalimantan Barat. Hotspot turun drastis dari 31 menjadi 12 titik.

Sumatera Selatan juga mengalami penurunan, dari 88 menjadi 76 titik. Namun, provinsi tersebut masih menjadi penyumbang hotspot terbanyak di antara enam wilayah prioritas sehingga tetap menjadi fokus pengendalian.

Sementara itu, hotspot di Kalimantan Selatan naik dari 4 menjadi 6 titik. Riau turun menjadi 8 titik dan Jambi tercatat 3 titik.

53 Armada Udara Siaga

Kementerian Kehutanan bersama Manggala Agni, TNI, Polri, BNPB, BMKG, BPBD, pemerintah daerah, masyarakat, dunia usaha, dan para pihak terus memperkuat operasi di lapangan.

Sebanyak 53 armada udara disiagakan untuk mendukung pengendalian karhutla di enam provinsi prioritas, yakni Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Barat.

Dari jumlah tersebut, 19 armada digunakan untuk patroli udara dan mendukung Operasi Modifikasi Cuaca, sedangkan 34 armada disiapkan untuk operasi water bombing.

Pengerahan armada dilakukan berdasarkan perkembangan titik panas, kondisi meteorologis dan kebutuhan di lapangan.

Selain pemadaman dari udara, tim darat terus melakukan patroli, groundcheck, pemadaman langsung, penyekatan penjalaran api, mopping up, hingga pendinginan untuk mencegah api kembali menyala.

Hujan OMC Bantu Basahi Lahan, Asap Masih Mengancam

Operasi Modifikasi Cuaca pada 8 September turut mendukung terjadinya hujan di sebagian wilayah Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah.

Hujan tersebut membantu meningkatkan kelembapan dan membasahi lahan. Namun, kondisi itu belum cukup untuk menghentikan seluruh risiko karhutla.

Kementerian Kehutanan menegaskan bahwa hotspot merupakan indikasi anomali suhu permukaan yang terdeteksi satelit dan tidak otomatis berarti satu kejadian kebakaran. Satu kejadian kebakaran dapat menghasilkan beberapa titik panas sehingga seluruh indikasi tetap harus diverifikasi melalui groundcheck.

Ancaman juga terlihat dari kondisi asap. Pengamatan meteorologi penerbangan BMKG pada 8 September siang menunjukkan sejumlah wilayah masih terdampak asap.

Jarak pandang di Pontianak tercatat sekitar 3 kilometer dengan kondisi berasap. Palangka Raya sekitar 5 kilometer berasap, Palembang sekitar 5 kilometer berasap, Pekanbaru sekitar 4 kilometer berasap, dan Jambi sekitar 3 kilometer berasap. Sementara Banjarmasin memiliki jarak pandang sekitar 8 kilometer dengan kondisi berawan.

Kualitas udara berbasis PM2,5 juga masih bervariasi. Sejumlah wilayah di Sumatera dan Kalimantan berada pada kategori tidak sehat hingga sangat tidak sehat, bahkan terdapat wilayah di Kalimantan yang masuk kategori berbahaya.

Masyarakat Diminta Tak Bakar Lahan

Kementerian Kehutanan mengingatkan masyarakat agar tidak membuka maupun membersihkan lahan dengan cara membakar.

Masyarakat yang menemukan asap, titik api, atau indikasi kebakaran diminta segera melaporkannya agar dapat ditindaklanjuti petugas.

Laporan dapat disampaikan melalui Posko Karhutla Kementerian Kehutanan di nomor 021-5704618, WhatsApp +62 8131-00-35000, atau email [email protected].

Di tengah tren hotspot yang masih berubah cepat, pemerintah menegaskan pemantauan akan dilakukan secara terpadu dengan melihat perkembangan titik panas, kondisi api di lapangan, cuaca, curah hujan, arah angin, kualitas udara, sebaran asap, hingga jarak pandang.

Sumber : Kemenhut

Editor : Abraham Johan

Tinggalkan Komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses