Inflasi Balikpapan dan PPU Naik pada Juni 2026, Harga BBM dan Tiket Pesawat Jadi Pemicu Utama

Bandara SAMS Sepinggan Balikpapan (foto : Angkata Pura Balikpapan)
Bandara SAMS Sepinggan Balikpapan (foto : Angkata Pura Balikpapan)

BALIKPAPAN, Inibalikpapan.com – Kota Balikpapan dan Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) mencatat kenaikan inflasi pada Juni 2026. Lonjakan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi dan tiket pesawat menjadi faktor utama yang mendorong kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK), meski Bank Indonesia (BI) memastikan tekanan inflasi masih berada dalam batas aman.

Data Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Balikpapan menunjukkan inflasi bulanan (month to month/mtm) di Kota Balikpapan mencapai 0,86 persen, sedangkan Kabupaten PPU sebesar 0,39 persen.

Secara tahunan (year on year/yoy), inflasi Balikpapan tercatat 2,80 persen, sementara PPU 2,96 persen. Angka tersebut masih lebih rendah dibanding inflasi nasional yang mencapai 3,34 persen maupun inflasi gabungan empat kota di Kalimantan Timur sebesar 3,20 persen.

“Perkembangan inflasi di Balikpapan dan PPU masih berada dalam rentang sasaran inflasi nasional 2026 sebesar 2,5 persen ±1 persen,” demikian keterangan resmi KPwBI Balikpapan, Kamis (2/7).

Harga Pertamax dan Tiket Pesawat Jadi Penyumbang Terbesar

Di Balikpapan, kelompok transportasi menjadi penyumbang inflasi terbesar dengan andil 0,68 persen.

Lima komoditas yang paling mendorong kenaikan harga sepanjang Juni yakni:

  • Bensin
  • Angkutan udara
  • Bawang merah
  • Jagung manis
  • Beras

Kenaikan harga bensin dipicu penyesuaian harga Pertamax (RON 92) yang naik dari Rp12.600 menjadi Rp16.650 per liter sejak 10 Juni 2026.

Sementara itu, tarif angkutan udara ikut melonjak sebagai dampak lanjutan kebijakan fuel surcharge penerbangan domestik di tengah tingginya harga avtur dunia dan meningkatnya permintaan masyarakat.

Selain sektor transportasi, harga bawang merah, jagung manis, dan beras juga meningkat akibat terbatasnya pasokan dari daerah sentra produksi di Pulau Jawa dan Sulawesi, ditambah kenaikan biaya logistik.

Cabai Rawit hingga LPG Tekan Inflasi

Di tengah kenaikan sejumlah komoditas, beberapa harga kebutuhan pokok justru mengalami penurunan sehingga membantu menahan laju inflasi.

Komoditas penyumbang deflasi terbesar di Balikpapan meliputi:

  • Cabai rawit
  • Semangka
  • Bahan bakar rumah tangga (LPG)
  • Tas sekolah
  • Tomat

Penurunan harga cabai dan tomat didorong meningkatnya masa panen di sejumlah daerah sentra produksi, sedangkan harga LPG lebih stabil berkat operasi pasar dan kecukupan stok.

Inflasi PPU Juga Dipicu BBM

Di Kabupaten Penajam Paser Utara, inflasi terutama dipengaruhi kenaikan harga bensin, bawang merah, cabai rawit, minyak goreng, dan jagung manis.

Sebaliknya, harga daging ayam ras, semangka, ikan tongkol, tomat, serta sawi hijau mengalami penurunan karena pasokan yang meningkat.

BI Waspadai Kemarau dan El Nino

Meski inflasi masih terkendali, Bank Indonesia mengingatkan adanya sejumlah risiko yang berpotensi meningkatkan tekanan harga pada semester II 2026.

Salah satunya adalah prakiraan musim kemarau yang diperkirakan semakin kuat akibat fenomena El Nino, sehingga berpotensi mengurangi produksi pertanian di Pulau Jawa yang selama ini menjadi pemasok utama kebutuhan pangan bagi Balikpapan, PPU, dan Kabupaten Paser.

Selain itu, meningkatnya kebutuhan pangan seiring percepatan operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) juga diperkirakan dapat meningkatkan permintaan sejumlah komoditas strategis.

BI dan TPID Perkuat Pengendalian Harga

Untuk menjaga stabilitas harga, Bank Indonesia bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Balikpapan, PPU, dan Paser terus memperkuat berbagai program pengendalian inflasi.

Selama Juni 2026, sejumlah langkah telah dilakukan, di antaranya:

  • Menggelar 9 kali Gerakan Pangan Murah (GPM) di Balikpapan.
  • Melaksanakan operasi pasar di Balikpapan dan PPU.
  • Menyalurkan benih tanaman hortikultura dan bibit cabai kepada masyarakat.
  • Mendorong percepatan tanam pangan lokal.
  • Menjajaki kerja sama antar daerah dengan TPID Kabupaten Karo, Sumatera Utara, untuk memperkuat pasokan pangan strategis.

Bank Indonesia optimistis sinergi tersebut mampu menjaga inflasi daerah tetap berada dalam target nasional sepanjang 2026.

“KPwBI Balikpapan meyakini inflasi di Balikpapan dan PPU akan tetap terkendali dalam sasaran inflasi nasional sebesar 2,5 persen ±1 persen melalui penguatan sinergi bersama pemerintah daerah dan TPID,” demikian pernyataan resmi BI Balikpapan.

Sumber : Siaran Pers BI Balikpapan

Editor : Abraham Johan

Tinggalkan Komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses