Kaltim Jadi Superhub Ekonomi Nusantara

Gubernur Kaltim Rudy Mas'ud (foto : Pemprov)
Gubernur Kaltim Rudy Mas'ud (foto : Pemprov)

JAKARTA, Inibalikpapan.com – Kalimantan Timur (Kaltim) memasuki fase baru sebagai Superhub Ekonomi Nusantara. Namun, di tengah pembangunan kawasan ekonomi baru tersebut, Pemerintah Provinsi Kaltim menilai tantangan terbesar bukan hanya membangun infrastruktur, tetapi memastikan daerah memiliki sumber daya manusia (SDM) yang mampu mengisi kebutuhan ekonomi masa depan.

Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud menjadikan program Gratispol atau kuliah gratis untuk anak Kaltim sebagai salah satu strategi menyiapkan SDM tersebut.

Program yang berlandaskan Peraturan Gubernur Kaltim Nomor 24 Tahun 2025 tentang Bantuan Biaya Pendidikan bagi Mahasiswa pada Perguruan Tinggi itu diarahkan untuk memperluas akses pendidikan tinggi sekaligus meningkatkan kualitas SDM Kaltim.

Rudy menyampaikan hal tersebut dalam Sarasehan Mitra Beasiswa yang digelar Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek), Rabu (16/9/2026), dkutip dari laman Pemprov.

Kaltim Tak Cukup Hanya Bangun Infrastruktur

Rudy menilai pembangunan ekonomi tidak dapat dilepaskan dari kualitas pendidikan masyarakat. Menurutnya, pendidikan memiliki dampak berantai terhadap berbagai sektor, mulai dari ekonomi hingga kesejahteraan.

“Pendidikan ini sangat-sangat memiliki multiefek. Terutama adalah efek ekonomi, efek politik, efek daripada kesejahteraan, kesehatan. Ini sangat penting,” ujar Rudy, dikutip dari laman Pemprov.

Ia menyoroti masih rendahnya proporsi masyarakat Indonesia yang melanjutkan pendidikan hingga perguruan tinggi.

“Bagaimana kita mau bicara tentang pertumbuhan ekonomi, bagaimana kita mau berbicara tentang kesehatan kalau pendidikan kita hanya, mohon maaf, yang mengenyam pendidikan sampai tingkat perguruan tinggi atau sarjana hanya delapan sampai dengan sembilan persen,” katanya.

Bagi Rudy, kondisi tersebut menunjukkan bahwa pembangunan SDM harus menjadi bagian penting dari strategi pembangunan jangka panjang.

Gratispol Jadi Investasi SDM Kaltim

Berdasarkan data BPS per Desember 2025, Kaltim sebenarnya memiliki sejumlah indikator pendidikan yang relatif kuat. Kaltim tercatat berada di peringkat keempat nasional untuk Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dengan skor 79,39.

Kaltim juga berada di posisi pertama untuk Angka Partisipasi Kasar (APK) SMA/SMK sederajat sebesar 99,59 persen dan peringkat ketujuh APK pendidikan tinggi sebesar 40,44 persen.

Namun, capaian tersebut dinilai belum cukup untuk menghadapi perubahan struktur ekonomi Kaltim seiring berkembangnya Nusantara sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru.

Karena itu, Gratispol diarahkan untuk mengurangi hambatan biaya yang masih menjadi salah satu faktor pembatas akses masyarakat ke pendidikan tinggi.

Program tersebut diharapkan memperbesar jumlah anak Kaltim yang dapat melanjutkan pendidikan hingga jenjang sarjana, bahkan magister dan doktor.

Rudy: Lulusan Perguruan Tinggi Bisa Menghidupi Lebih Banyak Orang

Rudy menekankan pendidikan tinggi tidak hanya berdampak pada individu yang menerima manfaat, tetapi juga terhadap kemampuan seseorang untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga dan lingkungan sekitarnya.

Ia membandingkan kondisi lulusan pendidikan menengah dengan mereka yang memiliki pendidikan lebih tinggi.

“Kalau lulusan SMA ini hanya mampu menghidupin diri sendiri. Kalau pendidikannya di bawah dari SMA, kurang dari SMA, SMP tidak lulus, SMA tidak lulus, SD tidak lulus maka ini akan menjadi beban kita semua,” ujarnya.

Sebaliknya, menurut Rudy, semakin tinggi pendidikan seseorang, semakin besar pula peluangnya untuk memberikan dampak ekonomi kepada orang lain.

“Oleh karena itu kalau anak-anak kita sudah memiliki pendidikannya sampai dengan sarjana, apalagi S2, S3, itu akan mampu menghidupin yang lainnya,” pungkasnya.

Bagi Kaltim, agenda pendidikan tersebut ditempatkan dalam konteks yang lebih besar: memastikan transformasi sebagai Superhub Ekonomi Nusantara tidak berhenti pada pembangunan kawasan dan infrastruktur, tetapi juga menghasilkan SDM lokal yang mampu mengambil bagian dalam pertumbuhan ekonomi baru tersebut.

Editor : Abraham Johan

Tinggalkan Komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses