Karhutla Kalimantan Makin Ganas, 518 Hotspot Terdeteksi dalam Sehari

Karhutla Kalimantan makin mengkhawatirkan. Sebanyak 518 hotspot terdeteksi dalam sehari, dengan total 750 titik selama 17–19 Agustus 2026.
Karhutla Kalimantan makin mengkhawatirkan. Sebanyak 518 hotspot terdeteksi dalam sehari, dengan total 750 titik selama 17–19 Agustus 2026. (foto : Kemenhut)

JAKARTA, Inibalikpapan.com – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan memasuki fase mengkhawatirkan. Dalam satu hari, jumlah hotspot berkepercayaan tinggi di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan melonjak hingga 518 titik.

Data Sistem Pemantauan Karhutla (SIPONGI) Kementerian Kehutanan berdasarkan pemantauan satelit NASA-MODIS/Terra-Aqua menunjukkan lonjakan tajam pada 19 Agustus 2026 pukul 07.00 WIB.

Kalimantan Barat mencatat 259 hotspot, disusul Kalimantan Tengah sebanyak 242 titik dan Kalimantan Selatan 17 titik.

Angka tersebut melonjak lebih dari empat kali lipat dibandingkan sehari sebelumnya yang tercatat 109 hotspot di tiga provinsi tersebut.

750 Hotspot dalam Tiga Hari

Jika dihitung selama periode 17–19 Agustus 2026, total hotspot berkepercayaan tinggi mencapai 750 titik.

Kalimantan Barat menyumbang 367 hotspot, Kalimantan Tengah 343 hotspot, sedangkan Kalimantan Selatan 40 hotspot.

Namun, pemerintah menegaskan hotspot tidak otomatis berarti jumlah kejadian kebakaran. Satu titik kebakaran dapat terdeteksi sebagai beberapa hotspot sehingga seluruh temuan tetap membutuhkan verifikasi lapangan untuk memastikan lokasi, kondisi, penyebab, dan luasan area terbakar.

Lonjakan hotspot juga tidak bisa langsung dijadikan ukuran tingkat kepekatan asap. Kondisi kabut asap dipengaruhi lokasi kebakaran, arah dan kecepatan angin, kelembapan, kondisi atmosfer, karakteristik lahan hingga akumulasi asap dari berbagai wilayah.

Kabut Asap Ganggu Jarak Pandang

Dampak karhutla mulai terasa di sejumlah wilayah. Pemerintah menerima laporan masyarakat mengenai kabut asap dan penurunan jarak pandang, termasuk dari Sungai Tabuk, Banjarbaru, Banjarmasin, Palangka Raya, Pontianak dan wilayah lainnya.

Pada 19 Agustus 2026, kondisi jarak pandang cukup berbeda antarwilayah.

Di Bandara Supadio Pontianak, BMKG mencatat kondisi berasap dengan jarak pandang sekitar 1,2 kilometer pada pukul 08.00 WIB.

Di Palangka Raya, jarak pandang sekitar 3 kilometer pada pukul 07.30 WIB. Sedangkan di Bandara Internasional Syamsudin Noor, Kalimantan Selatan, jarak pandang bahkan sempat turun hingga 400 meter pada pukul 07.00 WITA.

Kondisi mulai membaik pada 20 Agustus 2026. Jarak pandang di Bandara Supadio meningkat menjadi sekitar 4 kilometer, sementara Bandara Tjilik Riwut Palangka Raya mencapai sekitar 6 kilometer. Di sejumlah titik Banjarbaru, jarak pandang kembali lebih dari 10 kilometer.

Meski membaik, pemerintah mengingatkan kondisi asap sangat dinamis dan dapat kembali memburuk mengikuti perkembangan titik api dan kondisi atmosfer.

12.880 Personel Dikerahkan

Besarnya ancaman karhutla membuat pemerintah mengerahkan sedikitnya 12.880 personel gabungan di tiga provinsi prioritas.

Rinciannya, 1.410 personel di Kalimantan Barat, 10.700 personel di Kalimantan Tengah, dan 770 personel di Kalimantan Selatan.

Personel berasal dari Manggala Agni, TNI, Polri, BNPB, BPBD, Masyarakat Peduli Api, pemerintah daerah, pelaku usaha, relawan hingga masyarakat.

Mereka dikerahkan untuk melakukan patroli terpadu, pemeriksaan lapangan, pemadaman darat, pembasahan dan pendinginan, penyekatan area terbakar serta menjaga lokasi yang rawan kembali terbakar.

Operasi juga diperkuat dengan kendaraan operasional, pompa, selang pemadaman, flexible tank, alat komunikasi, alat pelindung diri, helikopter patroli, pesawat patroli fixed wing dan helikopter water bombing.

OMC Tak Bisa Sembarangan Dilakukan

Pemerintah juga mengandalkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk membantu mengendalikan karhutla. Namun, operasi ini tidak bisa dilakukan setiap saat karena sangat bergantung pada keberadaan awan potensial dan kondisi atmosfer.

Di Kalimantan Barat, OMC telah dilaksanakan pada 13–17 Agustus 2026 melalui Posko Pontianak dengan sembilan sorti penerbangan. Estimasi volume curah hujan di wilayah penyemaian mencapai 10,92 juta meter kubik.

Peluang OMC kembali terbuka pada 23–27 Agustus 2026, dengan BMKG terus berkoordinasi dengan pihak terkait.

Sementara di Kalimantan Tengah, OMC telah digelar pada 27 Juli–4 Agustus dan 11–15 Agustus 2026 dengan total 13 sorti penerbangan. Estimasi volume curah hujan di wilayah penyemaian mencapai sekitar 4,8 juta meter kubik.

Namun, hingga akhir Agustus, Kalimantan Tengah diprakirakan masih didominasi kondisi kering dengan pertumbuhan awan hujan terbatas. Peluang OMC dalam waktu dekat pun disebut sangat minim.

Asap Pekat Hambat Water Bombing

Ancaman karhutla di Kalimantan Tengah juga diperparah oleh kondisi asap yang pekat. Pemerintah memperkuat armada udara dengan helikopter patroli, pesawat patroli fixed wing dan helikopter water bombing.

Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni telah berkoordinasi dengan Kepala BNPB untuk menambah dukungan armada udara bagi operasi pemadaman dari udara di Kalimantan Tengah.

Namun, ada persoalan lain: asap justru menghambat operasi udara.

Pekatnya asap di sekitar Jabiren dan Tanjung Taruna hingga kawasan Taman Nasional Sebangau membuat jarak pandang pilot terbatas. Dalam kondisi yang tidak memenuhi standar keselamatan penerbangan, helikopter tidak bisa dipaksakan melakukan water bombing.

Artinya, ketika OMC terkendala minimnya awan dan water bombing terkendala asap, pasukan darat menjadi tumpuan utama untuk menahan agar api tidak semakin meluas.

Pemerintah Bidik Penyebab Kebakaran

Di tengah operasi pemadaman, pemerintah bersama aparat penegak hukum juga terus menyelidiki penyebab karhutla.

Jika ditemukan unsur kesengajaan, kelalaian, atau pelanggaran kewajiban pengendalian karhutla, proses penegakan hukum akan dilakukan sesuai ketentuan.

Masyarakat dan pelaku usaha juga kembali diingatkan bahwa membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar dilarang.

Pemerintah meminta masyarakat di wilayah terdampak menggunakan masker, mengurangi aktivitas luar ruangan ketika kualitas udara memburuk dan segera mencari pertolongan medis jika mengalami gangguan pernapasan.

Pengendara juga diminta menurunkan kecepatan, menjaga jarak aman dan menyalakan lampu kendaraan ketika jarak pandang terbatas.

Dengan 518 hotspot dalam sehari dan total 750 hotspot dalam tiga hari, situasi karhutla di Kalimantan masih membutuhkan kewaspadaan tinggi. Pemerintah memastikan operasi darat, patroli, pemantauan hotspot, pemadaman, pendinginan hingga operasi udara akan terus disesuaikan dengan kondisi lapangan.

Sumber : Siaran Pers Kemenhut

Editor : Abraham Johan

Tinggalkan Komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses