Kemdiktisaintek Ungkap 99 Persen Kecurangan SNBT 2026 Incar Fakultas Kedokteran

Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto (foto : Humas)

JAKARTA, Inibalikpapan.com – Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Brian Yuliarto, mengungkapkan mayoritas praktik kecurangan dalam Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) 2026 terjadi pada program studi kedokteran.

Temuan tersebut menjadi perhatian serius pemerintah karena praktik joki hingga manipulasi dinilai merusak integritas seleksi nasional masuk perguruan tinggi.

“Sebagian besar, bahkan hampir 99 persen kecurangan terjadi di fakultas kedokteran,” ujar Brian dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (25/5/2026), dilansir dari laman ileague.

Menurutnya, pemerintah kini melakukan identifikasi secara mendalam untuk memutus rantai kecurangan agar tidak kembali terulang pada pelaksanaan SNBT mendatang.

Brian menegaskan, tidak ada toleransi terhadap praktik curang dalam proses seleksi nasional karena hal tersebut merugikan peserta lain yang mengikuti ujian secara jujur serta mencederai nilai-nilai pendidikan.

“Ini menyangkut keadilan. Kalau ada yang lulus dengan cara curang, berarti ada yang dirugikan. Ini tidak sesuai dengan pembangunan karakter bangsa,” tegasnya.

Senada, Ketua Umum Tim Penanggung Jawab SNPMB 2026, Eduart Wolok, menyebut pola kecurangan serupa sudah terdeteksi sejak tahun sebelumnya.

Untuk itu, panitia menerapkan strategi khusus bagi peserta yang memilih program studi kedokteran dan kedokteran gigi, dengan menjadwalkan mereka mengikuti ujian di hari pertama dan kedua UTBK, yakni 21–22 April 2026.

Langkah tersebut bertujuan mempersempit ruang gerak sindikat joki yang kerap memanfaatkan celah di akhir pelaksanaan ujian.

“Data kami menunjukkan hampir 100 persen kecurangan menyasar prodi kedokteran,” ujar Eduart.

Selain pengaturan jadwal, panitia juga memperkuat sistem pengawasan dengan teknologi canggih, mulai dari penggunaan metal detector, face recognition, hingga pendeteksian anomali jawaban berbasis kecerdasan buatan (AI).

Tinggalkan Komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses