Proyek Gas Manpatu PHM Makin Dekat, 360 Warga Kaltim Sudah Terlibat Kerja

Proyek gas Manpatu yang digarap PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM) makin mendekati tahap produksi.
Seremoni pelepasan (sail away) topside Proyek Manpatu di fasilitas PT Meindo Elang Indah, Tanjung Pinang, Kepulauan Riau, Jumat (17/4). Foto: PT PHI

BALIKPAPAN, inibalikpapan.com — Proyek gas Manpatu yang digarap PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM) makin mendekati tahap produksi. Bukan sekadar proyek migas, pembangunan ini mulai terasa dampaknya—terutama bagi ratusan tenaga kerja asal Kalimantan Timur.

Topside atau bagian utama anjungan lepas pantai resmi diberangkatkan dari Tanjung Pinang, Kepulauan Riau, menuju offshore Balikpapan. Momen ini ditandai lewat seremoni load out dan sail away di fasilitas fabrikasi PT Meindo Elang Indah, Jumat, (17/4/2026).

Struktur seberat sekitar 1.000 ton ini akan menempuh perjalanan hampir 2.000 kilometer selama sekitar 15 hari sebelum dipasang di lokasi proyek.

Tahapan ini jadi penanda penting. Artinya, proyek Manpatu sudah masuk fase instalasi—langkah krusial sebelum produksi gas benar-benar berjalan.

Dari Nol ke Produksi: Proyek Dikebut Sejak 2022

Proyek ini bukan proyek lama. Berawal dari penemuan sumur Manpatu-1X pada 2022, pengembangannya langsung masuk kategori cepat (fast track).

Dalam waktu singkat, proyek ini sudah mencakup pembangunan jacket dan topside baru, serta modifikasi anjungan lama. Selain itu, juga dilakukan pemasangan pipa bawah laut sepanjang 2,5 km dan direncanakan pengeboran 11 sumur.

Jika selesai, fasilitas ini diproyeksikan mampu memproduksi hingga 80 juta standar kaki kubik gas per hari (mmscfd).

Di balik proyek besar ini, ada dampak yang mulai terasa.
Lebih dari 360 tenaga kerja asal Kalimantan Timur sudah terlibat dalam proses fabrikasi di Tanjung Pinang.

Wakil Gubernur Kaltim Seno Aji menyebut, proyek ini memberi peluang di tengah situasi banyaknya pemutusan hubungan kerja (PHK).

“Di tengah kondisi banyaknya PHK, proyek ini justru membuka peluang kerja bagi tenaga terampil dari Kalimantan Timur,” ujarnya.

Proyek Manpatu bukan sekadar proyek migas biasa, tetapi menjadi langkah strategis untuk menambah produksi gas di wilayah Mahakam sekaligus menjaga stabilitas pasokan energi.

Kehadirannya juga diharapkan mampu mendukung berbagai aktivitas industri di Kalimantan Timur yang terus berkembang. Tak hanya itu, proyek ini berpotensi memperkuat ekosistem energi, khususnya di kawasan sekitar Balikpapan.

Dengan produksi tambahan, proyek ini juga jadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan energi nasional.

Proses Berisiko Tinggi, Tapi Tanpa Kecelakaan

Tahap load out dan sail away bukan pekerjaan ringan. Selain kompleks, proses ini memiliki risiko tinggi karena melibatkan struktur raksasa dan koordinasi lintas tim.

Namun hingga Maret 2026, proyek ini mencatat lebih dari dua juta jam kerja tanpa kecelakaan kerja yang menyebabkan kehilangan waktu kerja (LTI).

PHM menegaskan, capaian ini tidak lepas dari kerja sama banyak pihak.

Mulai dari pemerintah, SKK Migas, kontraktor, hingga pekerja di lapangan terlibat dalam proses ini.

“Ini hasil kerja bersama. Kolaborasi yang solid jadi kunci utama,” kata General Manager PHM, Setyo Sapto Edi.

Dengan topside yang kini dalam perjalanan menuju Balikpapan, proyek Manpatu tinggal selangkah lagi menuju tahap produksi.

Bagi Kalimantan Timur, proyek ini menjadi salah satu penopang penting di tengah dorongan pembangunan kawasan, termasuk sekitar Balikpapan.

Tinggalkan Komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses