Rupiah Terpuruk, Harga Barang Diprediksi Naik dalam Hitungan 2-3 Bulan ke Depan
JAKARTA, inibalikpapan.com – Nilai tukar rupiah yang terus melemah hingga menembus Rp17.600 per dolar AS mulai memicu kekhawatiran terhadap kenaikan harga kebutuhan sehari-hari dalam beberapa bulan ke depan. Peneliti Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Nailul Huda, memperingatkan dampaknya bukan hanya terasa pada pelaku industri, tetapi juga masyarakat luas.
Menurut Huda, pelemahan rupiah mendapat pengaruh lonjakan harga minyak dunia akan meningkatkan biaya distribusi dan logistik. Sehingga memicu imported inflation atau inflasi dari barang-barang berbasis impor, baik bahan baku, bahan penolong, maupun produk konsumsi.
“Akan ada kenaikan harga dalam 2-3 bulan ke depan. Yang sudah mulai adalah plastik. Karena barangnya langka, distribusi mahal, sekalinya dapet, nilai rupiahnya melemah,” ujar Huda saat dihubungi Suara.com, jaringan inibalikpapan.com, Senin (18/5/2026).
Pada perdagangan Selasa sore, rupiah tercatat menyentuh level 17.712,66 per dolar AS. Di saat bersamaan, harga minyak mentah dunia masih bertahan di atas USD100 per barel, dengan Brent mencapai USD111,29 per barel dan West Texas Intermediate (WTI) di level USD107,73 per barel.
Huda menjelaskan, kenaikan harga plastik akan berdampak luas karena banyak produk sehari-hari menggunakan bahan tersebut, mulai dari kemasan makanan hingga kebutuhan rumah tangga.
“Akibatnya barang-barang yang menggunakan plastik juga meningkat harganya. Apakah di desa gak ada plastik? Tentu saja banyak dan itu menggerus dompet masyarakat desa juga,” kata Huda.
Tak hanya sektor konsumsi, tekanan juga kemungkinan menjalar ke industri elektronik dan pertanian. Pasalnya, banyak bahan baku pupuk dan komponen produksi masih bergantung pada impor.
Di sisi lain, daya beli masyarakat belum benar-benar pulih. Kondisi ini membuat pelaku usaha berada dalam posisi sulit karena biaya produksi naik, sementara penjualan belum stabil.
“Yang ada untuk saat ini margin dipertipis,” ujarnya.
Namun jika tekanan biaya terus berlangsung, Huda memperingatkan perusahaan kemungkinan akan mengambil langkah efisiensi lebih jauh, termasuk pengurangan tenaga kerja.
“Yang jelas ketika permintaan turun, potensi terjadi PHK sangat tinggi. Saya khawatir PHK ini akan memburuk dua-tiga bulan ke depan. Ekonomi kita akan semakin melambat. Efeknya ke rupiah yang tidak kunjung membaik,” kata Huda.***
BACA JUGA
