Seskab Teddy Balas Kritik Mantan Menlu, Sebut Lawatan Prabowo ke Luar Negeri Bukan Sekadar Seremoni

Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya menyampaikan keterangan pers di hadapan awak media di lingkungan Istana Kepresidenan Jakarta, pada Jumat, 27 Februari 2026. (Foto: Istimewa)
Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya menyampaikan keterangan pers di hadapan awak media di lingkungan Istana Kepresidenan Jakarta, pada Jumat, 27 Februari 2026. (Foto: Istimewa/Seskab)

JAKARTA, inibalikpapan.com – Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya merespons kritik mantan Wakil Menteri Luar Negeri Dino Patti Djalal. Ini terkait intensitas kunjungan luar negeri Presiden Prabowo Subianto.

Dalam pernyataannya, Teddy mengapresiasi masukan yang Dino sampaikan. Namun Ia juga menilai terdapat sejumlah hal yang perlu ia luruskan agar tidak menimbulkan persepsi keliru di tengah masyarakat.

“Terima kasih atas masukan yang telah diberikan, sangat cermat dan terstruktur. Saya pikir beliau adalah diplomat hebat, pernah menjadi Wakil Menteri Luar Negeri. Walau hanya diberi kesempatan sekitar tiga bulan,” kata Teddy dalam video yang diunggah akun Instagram Sekretariat Kabinet, dikutip Selasa (2/6/2026).

Teddy menjelaskan bahwa kunjungan luar negeri Presiden pemerintah lakukan dengan mempertimbangkan kepentingan diplomasi Indonesia di tengah situasi global yang terus berkembang.

Ia juga menanggapi sorotan terkait biaya perjalanan Presiden. Menurutnya, kelebihan biaya di luar anggaran resmi negara ditanggung langsung oleh Presiden Prabowo secara pribadi.

Selain itu, Teddy membantah anggapan bahwa jumlah rombongan Presiden dalam kunjungan luar negeri terlalu besar. Ia menyebut jumlah delegasi saat ini telah pemerintah pangkas secara signifikan ketimbang periode pemerintahan sebelumnya.

“Rombongan Presiden saat ini sekitar 50 sampai 60 orang. Dulu bisa lebih dari 120 orang dalam satu kunjungan,” ujarnya.

Teddy juga menanggapi usulan Dino agar agenda kunjungan luar negeri Presiden ia umumkan jauh hari sebelumnya. Menurut dia, dinamika global yang berubah cepat membuat tidak semua agenda dapat terencana secara kaku.

Ia mencontohkan berbagai perkembangan internasional dalam beberapa tahun terakhir, mulai dari konflik di Ukraina hingga ketegangan di kawasan Timur Tengah yang menuntut respons cepat dari para pemimpin negara.

Karena itu, menurut Teddy, diplomasi tidak dapat hanya terlihat dari frekuensi perjalanan, tetapi juga dari tujuan strategis yang ingin Indonesia capai melalui hubungan antarnegara.

“Hubungan antarnegara tidak dibangun saat krisis terjadi. Hubungan itu dibangun jauh sebelumnya melalui komunikasi dan kedekatan yang terus dijaga,” katanya.

Sebut Dino Salah Besar

Teddy menegaskan kunjungan luar negeri Presiden bukan sekadar kegiatan seremonial ataupun pencitraan. Menurutnya, diplomasi membutuhkan hubungan personal dan kepercayaan yang Presiden bangun secara konsisten dengan para pemimpin dunia.

“Jadi salah besar kalau dibilang hanya gagah-gagahan, seremonial,” tegasnya.

Ia meminta publik tidak hanya melihat jumlah perjalanan yang Presiden lakukan, tetapi juga memperhatikan hasil diplomasi yang diperoleh Indonesia dari berbagai lawatan tersebut.

Sebelumnya, Dino Patti Djalal mengusulkan agar Presiden Prabowo mengurangi frekuensi kunjungan luar negeri dan sebagian misi diplomatik yang bersifat taktis dapat presiden delegasikan kepada Menteri Luar Negeri Sugiono. Menurut Dino, langkah tersebut dapat meningkatkan efisiensi anggaran sekaligus memperkuat peran diplomasi Kementerian Luar Negeri.

Tinggalkan Komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses