Siswa SDN 009 Balikpapan Utara Sudah Bisa Bikin Website Mini, Penerapan Ekosistem Google For Education
BALIKPAPAN,Inibalikpapan.com – Literasi digital di kalangan siswa sekolah dasar di Balikpapan terus berkembang. Melalui penerapan ekosistem Google for Education, peserta didik kini tidak hanya memanfaatkan perangkat digital untuk mengerjakan tugas, tetapi juga mampu menghasilkan karya berupa website mini, presentasi interaktif, hingga belajar dasar-dasar coding dengan pendampingan guru.
Guru SD Negeri 009 Balikpapan Utara, Sevi Ema Melati, mengatakan kemampuan tersebut merupakan hasil pembelajaran digital yang diterapkan secara bertahap sejak siswa duduk di bangku kelas 3.
“Anak-anak mulai dikenalkan penggunaan Chromebook sejak kelas 3. Mereka belajar mengenal perangkat, mengetik, dan menggunakan aplikasi-aplikasi Google. Setelah masuk kelas 4 sampai kelas 6, mereka sudah lebih mahir sehingga bisa mengerjakan proyek-proyek digital,” ujar Sevi, Kamis (16/7/2026).
Ia menjelaskan, salah satu proyek yang rutin dikerjakan siswa adalah membuat website mini sebagai media untuk menyajikan hasil pembelajaran.
“Anak-anak membuat rangkuman di Google Docs, membuat presentasi menggunakan Google Slides, kemudian ada juga yang membuat website mini untuk menampilkan hasil proyek mereka. Jadi mereka tidak hanya menerima materi, tetapi juga menghasilkan karya,” katanya.
Menurut Sevi, kemampuan tersebut bukan berarti siswa sepenuhnya meninggalkan metode belajar konvensional. Pembelajaran tetap mengacu pada kurikulum nasional dengan memadukan aktivitas menulis di buku dan penggunaan perangkat digital.
“Kami tetap mengajarkan anak-anak menulis secara manual. Chromebook menjadi alat pendukung agar proses belajar lebih menarik dan sesuai dengan perkembangan teknologi,” jelasnya.
Gunakan Teknologi Buatan
Selain membuat website mini, siswa juga mulai diperkenalkan dengan konsep coding sederhana. Dalam proses pembelajaran, guru memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan seperti Gemini sebagai pendamping untuk membantu siswa memahami materi.
“AI seperti Gemini kami manfaatkan sebagai alat bantu belajar, tetapi penggunaannya tetap didampingi guru. Anak-anak diajarkan bagaimana menggunakan teknologi secara bijak, bukan sekadar mencari jawaban instan,” ujarnya.
Sevi mengakui, tantangan terbesar saat awal penerapan program adalah membiasakan siswa menggunakan Chromebook, terutama ketika belajar mengetik dan mengoperasikan perangkat.
“Awalnya memang tidak mudah karena banyak yang baru pertama kali menggunakan Chromebook. Tetapi biasanya dalam dua sampai tiga minggu mereka sudah mulai terbiasa dan lebih percaya diri,” katanya.
Menurutnya, setelah siswa menguasai perangkat, perubahan positif mulai terlihat dalam proses pembelajaran.
“Anak-anak menjadi lebih aktif. Mereka berani mencari referensi tambahan, berdiskusi, dan menyampaikan hasil pekerjaannya dengan cara yang lebih kreatif. Semangat belajarnya juga meningkat,” ungkap Sevi.
Digitalisasi pembelajaran di sekolah tersebut telah dimulai sejak masa pandemi Covid-19 melalui pemanfaatan Google Classroom. Kini, sekolah memiliki sekitar 870 unit Chromebook yang digunakan siswa kelas 3 hingga kelas 6 dalam kegiatan belajar sehari-hari.
“Harapan kami, anak-anak tidak hanya mahir menggunakan teknologi, tetapi juga mampu berpikir kritis, kreatif, berkolaborasi, dan bertanggung jawab dalam memanfaatkan teknologi digital. Bekal inilah yang mereka perlukan untuk menghadapi tantangan di masa depan,” tutup Sevi.***
Penulis : Samsul
Editor : Ramadani
BACA JUGA
