UMKM Balikpapan Mulai Masuk Era AI, BI Latih Pelaku Usaha Bertahan di Marketplace

Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Balikpapan kembali menjalankan Program Onboarding DIGDAYA UMKM 2026
Pelaku UMKM menunjukkan produk rajut handmade saat aktivitas produksi di workshop kerajinan di Balikpapan. Foto: Ist

BALIKPAPAN, inibalikpapan.com,– UMKM Balikpapan kini bukan hanya bersaing soal produk, tetapi juga algoritma marketplace dan teknologi AI. Melihat perubahan itu, Bank Indonesia mulai melatih pelaku usaha lokal agar tidak tertinggal di tengah persaingan digital yang makin ketat.

Perubahan pola belanja masyarakat setelah pandemi membuat pelaku UMKM harus cepat beradaptasi. Jika sebelumnya penjualan cukup mengandalkan toko fisik dan promosi dari mulut ke mulut, kini persaingan bergeser ke marketplace, media sosial, hingga live selling.

Tidak sedikit pelaku usaha kecil mulai kesulitan bersaing karena keterbatasan pemasaran digital dan kualitas konten promosi yang masih sederhana. Selain itu, masih banyak UMKM yang belum memahami pemanfaatan artificial intelligence (AI) untuk mendukung penjualan.

Di sisi lain, perubahan kebijakan marketplace dan potensi kenaikan biaya platform juga mulai menekan margin usaha pelaku UMKM.

BI Balikpapan Mulai Program DIGDAYA UMKM 2026

Melihat kondisi tersebut, Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Balikpapan kembali menjalankan Program Onboarding DIGDAYA UMKM 2026. Program ini merupakan Digitalisasi untuk Peningkatan Daya Saing UMKM.

Program itu resmi dimulai melalui workshop offline selama tiga hari pada 20–22 Mei 2026 di Kantor KPwBI Balikpapan.

Tidak sekadar pelatihan biasa, program ini disiapkan sebagai pembinaan berkelanjutan agar pelaku usaha lokal lebih siap menghadapi transformasi digital.

Materi yang diberikan mencakup strategi pemasaran digital, pengelolaan toko online di marketplace, hingga teknik live selling. Selain itu, peserta juga dibekali penguatan branding, pemanfaatan AI untuk bisnis, serta optimalisasi website usaha.

Dalam pelaksanaannya, BI Balikpapan menggandeng berbagai pihak seperti Otorita Ibu Kota Nusantara (OIKN), pemerintah daerah, korporasi pembina UMKM, dan sektor perbankan.

Sebanyak 160 UMKM mengikuti proses seleksi awal. Dari jumlah itu, terpilih 44 UMKM yang dinilai memiliki potensi berkembang dan kesiapan usaha untuk mengikuti program DIGDAYA UMKM 2026.

Peserta berasal dari berbagai sektor usaha, mulai dari makanan dan minuman olahan, fesyen, hingga kerajinan.

Selama pelatihan, peserta tidak hanya menerima materi teori, tetapi juga praktik langsung dan diskusi interaktif. Selain itu, peserta turut mengikuti presentasi scale up project agar strategi digital yang dipelajari bisa langsung diterapkan dalam usaha mereka.

UMKM Didorong Aktif Gunakan QRIS dan Marketplace

Selain pemasaran digital, peserta juga mendapat pembekalan literasi keuangan bisnis agar usaha yang dijalankan lebih berkelanjutan.

Program ini juga menargetkan peningkatan penggunaan transaksi digital QRIS, penguatan branding usaha, hingga peningkatan aktivitas penjualan online melalui marketplace dan media sosial.

Pendampingan akan berlanjut hingga Oktober 2026 melalui coaching online, monitoring berkala, dan monthly meeting bersama mentor dan mitra program.

BI Balikpapan menilai penguatan UMKM digital menjadi penting karena Kalimantan Timur, khususnya Balikpapan, akan menjadi salah satu daerah penyangga utama Ibu Kota Nusantara (IKN).

Karena itu, pelaku usaha lokal dinilai perlu lebih siap menghadapi perubahan pola bisnis dan peluang pasar baru yang berkembang di kawasan tersebut.

Melalui program DIGDAYA UMKM 2026, BI Balikpapan berharap semakin banyak UMKM lokal yang mampu naik kelas, lebih adaptif terhadap teknologi, dan memiliki daya saing lebih kuat di era ekonomi digital.***

Tinggalkan Komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses