Bahan Baku Naik, UMKM Balikpapan Hadapi Tantangan Jaga Penjualan
BALIKPAPAN,Inibalikpapan.com – Pertumbuhan jumlah usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Kota Balikpapan belum sepenuhnya menggambarkan kondisi penjualan para pelaku usaha.
Di tengah bertambahnya jumlah UMKM, sebagian pelaku usaha justru harus berjuang mempertahankan omzet akibat perlambatan ekonomi dan melemahnya daya beli masyarakat.
Kepala Dinas Koperasi, Usaha Mikro, Kecil, Menengah, dan Perindustrian (DKUKMP) Kota Balikpapan, Heruressandy Setia Kesuma, mengatakan kondisi UMKM saat ini cukup beragam. Ada pelaku usaha yang mengalami penurunan penjualan, namun ada pula yang masih mampu mencatatkan pertumbuhan.
“Kalau yang sudah berjalan, mungkin ada beberapa yang mengalami penurunan, ada juga yang mengalami kenaikan. Tergantung dari penjualan atau sektornya seperti apa,” kata Heruressandy, Senin (14/9/2026).
Menurutnya, tekanan terhadap UMKM tidak hanya berasal dari daya beli masyarakat. Kenaikan harga bahan baku juga menjadi persoalan yang dapat memengaruhi biaya produksi dan harga jual produk.
Salah satu yang terdampak adalah UMKM yang menggunakan bahan baku plastik. Ketika harga bahan baku meningkat, pelaku usaha harus mengeluarkan biaya lebih besar untuk menghasilkan produk yang sama.
Kondisi tersebut membuat pelaku usaha berada dalam posisi sulit. Di satu sisi, kenaikan biaya produksi perlu diimbangi dengan penyesuaian harga jual. Namun di sisi lain, menaikkan harga dapat membuat konsumen mengurangi pembelian.
“Kenaikan bahan baku otomatis berdampak pada penjualan mereka. Kalau harga naik, pembeli mungkin berpikir karena harganya sudah tidak terjangkau lagi,” ujarnya.
Heruressandy menilai kemampuan masyarakat dalam membelanjakan uang menjadi salah satu faktor yang menentukan keberlangsungan UMKM. Ketika daya beli melemah, konsumen cenderung lebih berhati-hati menentukan produk yang dibeli.
Mampu Menarik Konsumen
Situasi tersebut dapat dirasakan terutama oleh UMKM yang menjual produk yang bukan merupakan kebutuhan utama. Pelaku usaha dituntut menyesuaikan harga dan strategi penjualan agar tetap mampu menarik konsumen.
Meski menghadapi berbagai tekanan, minat masyarakat Balikpapan untuk memulai usaha masih cukup tinggi. Pemerintah kota mencatat sekitar 133.000 pelaku usaha telah memiliki izin melalui sistem Online Single Submission (OSS).
“Secara pembentukan, tumbuhnya signifikan. Pertambahan jumlah UMKM sekarang terus meningkat,” jelas Heruressandy.
Menurut dia, pertumbuhan tersebut menjadi indikasi bahwa masyarakat masih melihat peluang usaha di tengah kondisi ekonomi yang menantang. Namun, pemerintah juga perlu memperhatikan keberlangsungan UMKM yang sudah berjalan.
Sektor olahan pangan dan kuliner masih menjadi salah satu bidang yang banyak digeluti pelaku UMKM di Balikpapan. Karakter usaha yang dekat dengan kebutuhan masyarakat membuat sektor tersebut terus berkembang.
Heruressandy berharap kondisi ekonomi dan daya beli masyarakat dapat kembali membaik. Dengan daya beli yang lebih kuat, transaksi di tingkat konsumen diharapkan meningkat dan memberikan ruang bagi pelaku UMKM untuk menjaga omzet.
“Harapannya tentu daya beli masyarakat bisa kembali meningkat,” pungkasnya.
Dengan kondisi tersebut, tantangan UMKM Balikpapan kini bukan sekadar memperbanyak jumlah pelaku usaha. Yang tidak kalah penting adalah menjaga agar usaha yang sudah berjalan tetap bertahan, mampu menghadapi kenaikan biaya produksi, dan tetap mendapatkan pasar di tengah konsumen yang semakin selektif.***
Penulis : Samsul
Editor : Ramadani
BACA JUGA
