BMKG Analisis Sejumlah Kecelakaan Kapal, Termasuk KM Prince Soya di Samarinda

Rapat Dengar Pendapat (RDP) BMKG bersama Komisi V DPR RI (foto : BMKG)
Rapat Dengar Pendapat (RDP) BMKG bersama Komisi V DPR RI (foto : BMKG)

JAKARTA, Inibalikpapan.com – Kecelakaan kapal di empat wilayah perairan Indonesia terjadi dengan kondisi laut yang berbeda-beda. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkap hasil analisis teknis cuaca, angin, gelombang dan arus laut saat insiden terjadi.

Analisis tersebut dipaparkan Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi V DPR RI. Data BMKG disampaikan sebagai bahan faktual untuk mengevaluasi keselamatan pelayaran nasional.

Yang menjadi sorotan, tidak semua kecelakaan terjadi ketika hujan atau cuaca buruk. Pada sejumlah lokasi, citra satelit dan radar justru menunjukkan kondisi cerah hingga berawan tanpa hujan. Namun, kondisi angin, gelombang dan arus laut tetap menunjukkan dinamika yang berbeda di setiap lokasi.

BMKG menegaskan data tersebut merupakan gambaran kondisi meteorologi dan oseanografi ketika insiden berlangsung, bukan kesimpulan mengenai penyebab kecelakaan.

KMP Mutiara Sentosa II: Angin 20 Knot, Gelombang 1,5 Meter

Salah satu insiden yang dianalisis BMKG adalah KMP Mutiara Sentosa II di perairan utara Kabupaten Sumenep, Madura, pada 2 Agustus 2026 sekitar pukul 06.00–07.00 WIB.

Radar cuaca Surabaya pada pukul 06.03–07.33 WIB menunjukkan kondisi sekitar lokasi kejadian cerah hingga berawan dan tidak terpantau hujan.

Namun, kondisi laut tidak sepenuhnya tenang.

Angin tercatat berada pada kategori sedang hingga kencang dengan kecepatan 15–20 knot, bertiup dari arah timur-tenggara. Sementara tinggi gelombang mencapai 1,25–1,5 meter, masuk kategori sedang.

Arus permukaan bergerak dengan kecepatan sekitar 0,6–1,6 knot, dari arah dominan barat hingga barat laut. Data arus tersebut juga digunakan untuk membantu perencanaan operasi pencarian dan pertolongan.

KMP Putri Yasmin: Gelombang 3 Meter, Arus hingga 4 Knot

Kondisi lebih berat teridentifikasi dalam analisis KMP Putri Yasmin yang mengalami insiden di Pantai Sekotong, perairan Lombok, pada 12 Agustus 2026 sekitar pukul 04.15 WITA.

Citra satelit Himawari pukul 04.00 WITA menunjukkan cuaca cerah hingga berawan dan tidak terpantau hujan.

Namun, laut menunjukkan kondisi yang berbeda.

Kecepatan angin berada pada kisaran 5–15 knot dari arah tenggara. Tinggi gelombang mencapai 2–3 meter, yang masuk kategori sedang hingga tinggi.

Yang paling menonjol adalah kondisi arus permukaan. BMKG mencatat arus berada pada kategori kencang hingga sangat kencang dengan kecepatan 2–4 knot, bergerak dominan ke arah selatan hingga barat.

Kombinasi gelombang dan arus tersebut menjadi bagian penting dari gambaran kondisi laut saat insiden berlangsung.

KMP Nurul Salsa: Gelombang hingga 2,5 Meter

Analisis berikutnya dilakukan terhadap KMP Nurul Salsa yang mengalami insiden di perairan Pulau Kalatoa, Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan, pada 15 Juli 2026 sekitar pukul 11.10 WITA.

Citra satelit Himawari pukul 11.00 WITA menunjukkan kondisi cerah hingga cerah berawan, tanpa indikasi hujan.

Angin berada pada kategori sedang dengan kecepatan 15–20 knot, bertiup dari timur laut hingga timur.

Sementara tinggi gelombang berada di kisaran 1,25–2,5 meter, masuk kategori sedang. Arus permukaan mencapai 0,9–1,6 knot dan bergerak dominan ke arah barat daya hingga barat.

Artinya, seperti dua insiden sebelumnya, kondisi cuaca cerah tidak otomatis berarti kondisi pelayaran sepenuhnya aman. Parameter laut tetap menjadi faktor penting yang perlu diperhitungkan.

Prince Soya di Samarinda: Cuaca Cerah, Angin Relatif Lemah

Sementara itu, BMKG juga menganalisis insiden kapal motor penumpang Prince Soya di Pelabuhan Samarinda, Kalimantan Timur, pada 1 Agustus 2026 sekitar pukul 11.00 WITA.

Berbeda dengan kondisi KMP Putri Yasmin, Mutiara Sentosa II maupun Nurul Salsa, kondisi angin di sekitar Pelabuhan Samarinda relatif lebih lemah.

Berdasarkan citra satelit dan radar cuaca, kondisi sekitar lokasi kejadian cerah hingga berawan dan tidak terpantau hujan.

Angin tercatat hanya sekitar 4–5 knot, bertiup dari arah timur hingga tenggara.

Data tersebut menunjukkan perbedaan kondisi meteorologi dan oseanografi pada masing-masing lokasi kecelakaan.

BMKG: Data Bukan Penentu Penyebab Kecelakaan

BMKG menegaskan analisis tersebut tidak boleh ditafsirkan sebagai kesimpulan mengenai penyebab kecelakaan kapal.

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengatakan data yang disampaikan hanya menggambarkan kondisi meteorologi dan oseanografi pada waktu serta lokasi kejadian.

Penetapan penyebab kecelakaan tetap menjadi kewenangan lembaga yang berwenang, termasuk Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT).

Dengan demikian, temuan BMKG menjadi salah satu bahan penting dalam evaluasi keselamatan pelayaran, terutama untuk melihat apakah kondisi angin, gelombang dan arus telah diperhitungkan dalam pengoperasian kapal maupun pelaksanaan pencarian dan pertolongan.

BMKG juga menegaskan informasi prakiraan cuaca maritim telah disebarluaskan kepada para pemangku kepentingan melalui berbagai kanal, termasuk media elektronik, situs web, media sosial dan aplikasi pesan.

Tinggalkan Komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses