Industri Kimia dan Farmasi Dominasi Investasi Balikpapan, Capai Rp1,26 Triliun pada Triwulan I 2026
BALIKPAPAN,Inibalikpapan.com – Peta investasi di Kota Balikpapan mulai menunjukkan perubahan signifikan. Jika selama ini sektor pertambangan menjadi salah satu penyumbang utama investasi, pada triwulan I 2026 justru sektor industri kimia dan farmasi tampil sebagai motor penggerak baru dengan nilai investasi mencapai sekitar Rp1,26 triliun.
Nilai tersebut menjadi yang terbesar dari total realisasi investasi Kota Balikpapan pada triwulan I 2026 yang mencapai Rp3,52 triliun. Capaian ini mencerminkan semakin beragamnya sektor ekonomi yang berkembang di Kota Minyak, terutama seiring meningkatnya aktivitas pembangunan di kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN).
Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kota Balikpapan, Hasbullah Helmi, mengatakan dominasi industri kimia dan farmasi menjadi sinyal positif bagi arah pembangunan ekonomi daerah yang mulai bergeser ke sektor industri pengolahan dan hilirisasi.
“Ini perkembangan yang cukup menarik karena investasi tidak hanya terkonsentrasi pada sektor tradisional seperti pertambangan. Industri pengolahan mulai tumbuh kuat,” ujar Hasbullah, Jumat (31/7/2026).
Menurutnya, pertumbuhan sektor industri kimia dan farmasi membuka peluang baru bagi Balikpapan sebagai pusat kegiatan ekonomi yang mendukung kebutuhan industri di Kalimantan, khususnya sebagai kota penyangga IKN. Selain memiliki nilai investasi yang besar, sektor tersebut juga berpotensi menciptakan lapangan kerja, meningkatkan aktivitas industri, serta memperkuat rantai pasok di Kalimantan Timur.
Hasbullah menilai perkembangan tersebut menjadi bukti bahwa iklim investasi di Balikpapan semakin menarik bagi pelaku usaha yang bergerak pada sektor bernilai tambah tinggi. Pergeseran investasi dari sektor ekstraktif menuju industri pengolahan juga diharapkan mampu menciptakan ekonomi yang lebih berkelanjutan.
Selain industri kimia dan farmasi, sektor perdagangan dan reparasi juga mencatatkan kinerja yang kuat dengan nilai investasi mencapai sekitar Rp845 miliar. Sementara sektor pertambangan berada di posisi ketiga dengan realisasi investasi sekitar Rp771 miliar.
“Balikpapan saat ini berkembang menjadi pusat distribusi dan jasa. Itu yang membuat sektor perdagangan ikut bergerak sangat cepat,” katanya.
Ia menjelaskan, meningkatnya investasi di sektor perdagangan dipengaruhi oleh ekspansi pusat perbelanjaan, pertumbuhan jasa distribusi, serta berkembangnya sektor ritel modern yang melayani kebutuhan masyarakat maupun dunia usaha.
Di sisi lain, sektor transportasi, pergudangan, dan telekomunikasi juga menunjukkan pertumbuhan positif dengan nilai investasi sekitar Rp178 miliar. Kondisi tersebut didorong meningkatnya kebutuhan logistik dan konektivitas sebagai dampak perkembangan kawasan penyangga IKN.
Sementara itu, sektor penyediaan akomodasi, hotel, dan restoran mulai menunjukkan tren pemulihan dengan nilai investasi sekitar Rp41 miliar. Meningkatnya mobilitas masyarakat, pekerja proyek, serta aktivitas bisnis menjadi faktor yang mendorong kembali bergairahnya sektor tersebut.
Hasbullah menegaskan, tren investasi lintas sektor ini menunjukkan struktur ekonomi Balikpapan semakin beragam dan tidak lagi bergantung pada sektor tertentu. Pemerintah Kota Balikpapan akan terus menjaga iklim investasi yang kondusif melalui pelayanan perizinan yang cepat, transparan, dan memberikan kepastian hukum kepada para investor.
Menurutnya, diversifikasi investasi menjadi langkah penting untuk memperkuat daya tahan ekonomi daerah sekaligus meningkatkan nilai tambah bagi masyarakat. Dengan semakin berkembangnya sektor industri pengolahan, perdagangan, logistik, hingga jasa, Balikpapan diharapkan mampu menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru di Kalimantan yang mendukung pembangunan Ibu Kota Nusantara secara berkelanjutan.***
Penulis : Dani
Editor : Ramadani
BACA JUGA
