Inflasi Balikpapan dan PPU Kian Melandai, Harga Ayam dan Cabai Mulai Terjangkau Lagi
BALIKPAPAN, inibalikpapan.com – Inflasi Balikpapan April 2026 mulai melandai, ditandai turunnya harga ayam, cabai, dan ikan setelah lonjakan saat Lebaran. Kondisi ini membuat beban belanja warga sedikit berkurang, meski ancaman kenaikan harga masih membayangi dalam beberapa bulan ke depan.
Setelah sempat melonjak saat Idulfitri, harga sejumlah kebutuhan pokok di Balikpapan kini mulai turun. Data April 2026 menunjukkan kota ini mengalami deflasi tipis sebesar 0,05 persen (mtm).
Komoditas yang paling terasa penurunannya adalah daging ayam ras, cabai rawit, dan ikan layang.
Turunnya harga ini dipicu pasokan yang kembali normal, baik dari Jawa maupun produksi lokal. Nelayan juga mulai kembali melaut setelah cuaca membaik. Bagi warga, kondisi ini cukup terasa.
Di pasar tradisional, harga ayam dan cabai yang sebelumnya sempat tinggi kini mulai lebih terjangkau, meski belum sepenuhnya kembali ke harga normal sebelum Ramadan.
Penurunan harga ini memberi ruang napas bagi rumah tangga.
Setelah periode Lebaran yang identik dengan lonjakan pengeluaran, stabilnya harga pangan membantu warga menata kembali keuangan harian.
Meski tidak drastis, perubahan ini cukup membantu untuk mengurangi beban belanja dapur, menjaga daya beli, dan memberi kepastian harga jangka pendek.
Tapi Tidak Semua Turun, Ongkos Transportasi Justru Naik
Di tengah turunnya harga pangan, tekanan justru datang dari sektor transportasi.
Tarif pesawat menjadi penyumbang inflasi terbesar di Balikpapan, dipicu kenaikan harga avtur. Selain itu, beberapa komoditas masih naik, seperti minyak goreng, tomat, semangka, dan kangkung.
Penyebabnya antara lain cuaca hujan yang mengganggu produksi, serta distribusi dari luar daerah yang sempat mengalami keterlambatan.
PPU Masih Inflasi, Tapi Mulai Terkendali
Berbeda dengan Balikpapan, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) masih mencatat inflasi sebesar 0,33 persen.
Namun, angka ini sudah jauh lebih rendah dibanding bulan sebelumnya yang mencapai 1,09 persen.
Kenaikan harga di PPU masih dipicu komoditas seperti bawang merah, tomat, minyak goreng, dan daging sapi (jelang Iduladha).
Meski begitu, beberapa harga mulai turun, terutama daging ayam, cabai rawit, dan ikan tongkol
Meski kondisi saat ini relatif stabil, risiko ke depan tetap ada.
Musim kemarau yang diperkirakan mulai Juli–Agustus 2026 berpotensi menekan produksi pertanian, mengurangi pasokan pangan, serta mendorong harga kembali naik.
Apalagi, Pulau Jawa sebagai pemasok utama juga diprediksi mengalami musim kering lebih awal.
Untuk menjaga harga tetap stabil, berbagai langkah terus dilakukan, seperti:
- Operasi pasar dan bantuan pangan
- Kerja sama pasokan antar daerah
- Program tanam cabai, padi, dan jagung
- Distribusi bibit ke masyarakat
Program pasar murah juga terus digencarkan agar harga tetap terjangkau warga.
Ke Depan: Stabil Tapi Tetap Perlu Waspada
Secara tahunan, inflasi Balikpapan berada di 2,19 persen, masih di bawah nasional. Kondisi ini menunjukkan harga relatif terkendali, namun belum sepenuhnya aman. Jika pasokan terganggu atau permintaan meningkat, harga bisa kembali naik.
Stabilnya harga pangan saat ini memberi sinyal positif bagi warga Balikpapan. Namun, menjaga keseimbangan antara pasokan dan permintaan tetap menjadi kunci agar daya beli masyarakat tidak kembali tertekan di tengah perubahan cuaca dan aktivitas ekonomi yang terus meningkat.***
BACA JUGA
