Memadukan Manik-Manik Dayak dan Sentuhan Modern: Strategi Balikpapan Cetak Wirausaha Kreatif Baru

Pelatihan kerajinan manik-manik selama tiga hari, 27–29 April 2026, Aula Hotel Zurich Balikpapan (foto : Inibalikpapan/Samsul)
Pelatihan kerajinan manik-manik selama tiga hari, 27–29 April 2026, Aula Hotel Zurich Balikpapan (foto : Inibalikpapan/Samsul)

BALIKPAPAN, IniBalikpapan.com – Kota Balikpapan terus memperkuat ekosistem ekonomi kreatifnya dengan menggali potensi kearifan lokal. Selama tiga hari, 27–29 April 2026, Aula Hotel Zurich menjadi saksi lahirnya semangat baru dari 32 tangan kreatif yang mengikuti pelatihan kerajinan manik-manik.

Kegiatan yang diinisiasi oleh Dinas Koperasi, Usaha Kecil Menengah, dan Perindustrian (DKUKMP) bersama Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Balikpapan ini bertujuan mengonversi warisan budaya menjadi komoditas bernilai ekonomi tinggi.

Inovasi di Tengah Tradisi

Pelatihan ini tidak hanya mengajarkan teknik merangkai, tetapi juga menantang peserta untuk berinovasi. Salah satu fokus utamanya adalah pengembangan motif bunga anggrek khas Dayak yang dipadukan dengan palet warna modern.

Fadlian Arif, pelatih dari Manika Kaltim, menyebutkan bahwa adaptasi desain sangat krusial agar produk lokal mampu menembus pasar yang lebih luas tanpa kehilangan identitasnya. Salah satu terobosan yang dihasilkan adalah modifikasi anjat—anyaman rotan tradisional—menjadi tas bahu kontemporer dengan sentuhan manik-manik yang elegan.

“Antusiasme peserta sangat tinggi. Mayoritas adalah ibu rumah tangga dan pelaku usaha yang memulai dari dasar, namun mereka cepat beradaptasi dengan tren desain masa kini,” ujar Fadlian, Rabu (29/4/2026).

Ruang Inklusif bagi Disabilitas

​Menariknya, pelatihan ini juga menjadi ruang inklusif dengan melibatkan tiga peserta dari kalangan disabilitas. Hal ini menegaskan bahwa pengembangan ekonomi kreatif di Balikpapan bersifat terbuka bagi seluruh lapisan masyarakat.

​Ahyana, yang terpilih sebagai peserta terbaik pertama, mengungkapkan bagaimana pelatihan ini mengubah perspektif bisnisnya. Selama ini, ia dikenal sebagai perajin yang mengolah limbah jeriken.

​“Awalnya sulit, tapi lama-kelamaan menyenangkan. Saya melihat peluang besar untuk memadukan konsep daur ulang dengan seni manik-manik. Ini bukan sekadar kerajinan, tapi identitas Balikpapan,” tutur Ahyana.

​Dukungan Pasar dan Apresiasi

​Komitmen pemerintah daerah tidak berhenti pada pemberian materi pelatihan. Bentuk dukungan nyata ditunjukkan oleh Ketua Dekranasda Kota Balikpapan, Nurlena Rahmad Mas’ud. Sebagai bentuk apresiasi, ia memborong karya peserta berupa keranjang manik-manik untuk dipajang di Galeri Dekranasda.

​Langkah ini menjadi sinyal positif bagi para perajin pemula bahwa produk mereka memiliki nilai jual dan akses pasar yang dijamin oleh pemerintah setempat. Melalui integrasi antara budaya, inovasi desain, dan dukungan promosi, Balikpapan sedang merajut masa depan ekonomi lokal yang lebih tangguh dan mandiri.

Tinggalkan Komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses