Kesbangpol Balikpapan Ingatkan Mahasiswa Tak Terjebak Bullying hingga Radikalisme di Medsos
BALIKPAPAN, inibalikpapan.com – Media sosial bukan cuma jadi ruang berbagi informasi, tetapi juga bisa menjadi pintu masuk perundungan, intoleransi, hingga paham ekstremisme dan radikalisme. Karena itu, generasi muda di Balikpapan diminta lebih bijak saat berselancar di dunia digital.
Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Balikpapan, Elyzabeth E.R.L. Toruan, mengingatkan mahasiswa dan anak muda agar tidak menelan mentah-mentah informasi yang beredar di media sosial maupun permainan daring.
Menurutnya, konten yang terus dikonsumsi dapat memengaruhi cara berpikir dan perilaku jika tidak disaring dengan baik.
“Hal-hal seperti bullying di media sosial maupun pengaruh yang bisa mengarah pada ekstremisme dan radikalisme tentu dapat mengganggu kenyamanan di Kota Balikpapan,” kata Elyzabeth.
Balikpapan Butuh Generasi yang Bijak Bermedsos
Ia menjelaskan, Kesbangpol memiliki tugas membina masyarakat, termasuk mahasiswa, melalui penguatan wawasan kebangsaan, toleransi, serta nilai persatuan dan kesatuan.
Pesan itu dinilai semakin penting karena Balikpapan merupakan kota dengan masyarakat yang berasal dari beragam suku, agama, budaya, dan daerah.
Elyzabeth menyampaikan hal tersebut dalam kegiatan bertema “Merajut Kebinekaan, Menguatkan Toleransi, Memperkokoh Kesatuan Bangsa.”
Menurutnya, keberagaman di Balikpapan harus dijaga lewat sikap saling menghormati dan ruang dialog yang sehat di tengah masyarakat.
Salah satu langkah yang terus didorong adalah memperkuat moderasi beragama agar masyarakat mampu menghargai perbedaan tanpa kehilangan nilai dan keyakinan masing-masing.
“Bagaimana kita meningkatkan moderasi beragama sehingga tercipta toleransi beragama di Kota Balikpapan ini,” ujarnya.
Selain itu, Elyzabeth menekankan bahwa toleransi tidak hanya berlaku dalam kehidupan beragama, tetapi juga dalam hubungan sosial dan budaya sehari-hari.
Ia mengajak mahasiswa dan generasi muda untuk tidak mudah terprovokasi informasi yang berpotensi memecah belah persatuan.
Menurutnya, kemajuan teknologi harus dibarengi dengan kedewasaan menggunakan media sosial. Perbedaan pendapat, kata dia, tidak semestinya berubah menjadi perundungan, ujaran kebencian, ataupun konflik.
“Karena kita adalah kota yang heterogen, mari kita sama-sama menjaga Kota Balikpapan menjadi kota yang nyaman dihuni dalam bingkai Madinatul Iman,” tuturnya.
Elyzabeth berharap semangat menjaga kebinekaan tidak berhenti di acara seremonial, tetapi benar-benar diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Ia menegaskan, menjaga persatuan bukan hanya tanggung jawab pemerintah, melainkan juga seluruh elemen masyarakat, mulai dari mahasiswa, komunitas, tokoh agama, tokoh masyarakat, hingga generasi muda, agar Balikpapan tetap menjadi kota yang aman, nyaman, dan harmonis.***
Penulis: Samsul
Editor: Rizki
BACA JUGA
