Pemkot Balikpapan Dorong Urban Farming Terpadu, Limbah Rumah Tangga Bisa Jadi Sumber Pangan
BALIKPAPAN,Inibalikpapan.com – Pemerintah Kota Balikpapan terus mengembangkan konsep urban farming terpadu sebagai salah satu strategi memperkuat ketahanan pangan sekaligus mengurangi limbah rumah tangga di kawasan perkotaan.
Melalui program ini, masyarakat didorong memanfaatkan lahan kosong untuk kegiatan pertanian, peternakan, dan perikanan yang saling terintegrasi.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan (DKP3) Balikpapan, Sri Wahjuningsih, mengatakan urban farming tidak lagi dipandang sebatas menanam sayuran di pekarangan rumah. Pemerintah kini mendorong penerapan sistem terpadu yang mampu menghasilkan berbagai kebutuhan pangan keluarga secara mandiri.
Menurutnya, konsep tersebut menggabungkan budidaya tanaman, pemeliharaan ikan, hingga peternakan ayam petelur dalam satu siklus yang saling mendukung. Dengan pola tersebut, limbah yang dihasilkan dari satu sektor dapat dimanfaatkan kembali untuk menunjang sektor lainnya.
“Urban farming itu bukan hanya soal sayuran. Ada ikan, ada ayam petelur, bahkan pengolahan limbah rumah tangga yang bisa dimanfaatkan kembali sehingga semuanya menjadi lebih efisien,” kata Sri dikonfirmasi media, Selasa (16/6/2026).
Ia menjelaskan, salah satu konsep yang tengah diperkenalkan kepada masyarakat adalah pemanfaatan limbah organik rumah tangga untuk budidaya maggot. Larva lalat tentara hitam atau maggot tersebut kemudian dapat dimanfaatkan sebagai pakan alternatif bagi ikan maupun ayam petelur.
Tekan Biaya Produksi
Selain itu, kotoran ayam yang dihasilkan dari peternakan rumahan juga dapat diolah menjadi pupuk organik untuk menyuburkan tanaman sayuran. Dengan demikian, masyarakat tidak hanya mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia, tetapi juga mampu menekan biaya produksi.
“Kalau dikelola dengan baik, semua bisa saling mendukung. Limbah makanan menjadi maggot, maggot menjadi pakan ternak, lalu kotoran ternak menjadi pupuk tanaman. Ini yang menjadi kekuatan urban farming terpadu,” ujarnya.
Sri menilai penerapan sistem tersebut sangat relevan bagi kota-kota besar seperti Balikpapan yang memiliki keterbatasan lahan pertanian. Dengan memanfaatkan ruang kosong di lingkungan rumah, masyarakat tetap dapat berkontribusi dalam penyediaan pangan sekaligus meningkatkan ketahanan pangan keluarga.
Selain memberikan manfaat ekonomi melalui hasil panen atau produksi telur, urban farming juga dinilai mampu meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pengelolaan lingkungan. Sampah organik yang selama ini dibuang begitu saja dapat diolah menjadi sesuatu yang bernilai guna.
Meski demikian, pemerintah mengingatkan agar setiap kegiatan peternakan maupun budidaya dilakukan dengan memperhatikan kebersihan lingkungan. Pengelolaan kandang, limbah, serta pakan harus dilakukan secara baik agar tidak menimbulkan dampak negatif bagi lingkungan sekitar.
Melalui pengembangan urban farming terpadu, Pemkot Balikpapan berharap masyarakat tidak hanya menjadi konsumen pangan, tetapi juga mampu menjadi produsen pangan skala keluarga. Langkah tersebut diharapkan dapat mendukung ketahanan pangan daerah sekaligus menciptakan lingkungan yang lebih produktif, sehat, dan berkelanjutan di tengah perkembangan kawasan perkotaan yang semakin pesat.(***/Adv Diskominfo Balikpapan).
Penulis : Dani
Editor : Ramadani
BACA JUGA
