Program B50 Diproyeksikan Dongkrak Serapan Sawit Kaltim
SAMARINDA, Inibalikpapan.com – Penerapan biodiesel B50 yang resmi dimulai pada 1 Juli 2026 diproyeksikan menjadi angin segar bagi sektor perkebunan kelapa sawit di Kalimantan Timur.
Kebijakan ini diyakini mampu meningkatkan penyerapan crude palm oil (CPO), sekaligus menjaga bahkan mendorong kenaikan harga tandan buah segar (TBS) di tingkat petani.
Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur menilai meningkatnya kebutuhan bahan baku biodiesel akan memberikan dampak positif terhadap rantai industri sawit, mulai dari petani hingga pabrik kelapa sawit (PKS).
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Perkebunan Kalimantan Timur, Ahmad Muzakkir, mengatakan Kalimantan Timur memiliki potensi besar untuk mendukung implementasi program B50.
Saat ini, luas perkebunan kelapa sawit rakyat di Kaltim mencapai sekitar 225 ribu hektare dengan produksi sekitar 741 ribu ton tandan buah segar (TBS) per tahun.
Potensi tersebut didukung oleh 108 pabrik kelapa sawit (PKS) yang beroperasi di berbagai daerah untuk mengolah crude palm oil (CPO) sebagai bahan baku biodiesel.
“Bagaimanapun juga, kebijakan ini akan memberikan dampak positif terhadap sektor perkebunan, terutama dari sisi peningkatan pemanfaatan hasil kelapa sawit,” ujar Ahmad Muzakkir.
Meski demikian, ia menjelaskan implementasi penuh program B50 masih menunggu tahapan pelaksanaan dan mekanisme distribusi yang telah disiapkan pemerintah bersama pelaku usaha.
“Kita tunggu seperti apa tahapan implementasinya. Untuk pengolahan dan distribusi tentu mengacu pada sistem yang sudah dibangun. Pemerintah pada prinsipnya memberikan dukungan sesuai program dan kewenangan yang dimiliki, sementara pelaksanaannya juga melibatkan pihak swasta,” katanya.
Harga TBS Sawit Berpotensi Naik
Selain meningkatkan serapan hasil sawit, Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur juga memastikan perlindungan terhadap harga TBS petani tetap menjadi prioritas.
Penetapan harga acuan TBS terus dilakukan secara berkala agar petani memperoleh harga yang adil dan mencerminkan kondisi pasar.
Saat ini, harga TBS di Kalimantan Timur berada di kisaran Rp3.400 per kilogram.
Pemprov Kaltim berharap meningkatnya kebutuhan CPO sebagai bahan baku biodiesel B50 dapat memperkuat permintaan pasar sehingga harga TBS tetap stabil, bahkan berpeluang meningkat dalam beberapa waktu ke depan.
Dengan kapasitas produksi sawit yang besar dan didukung jaringan pabrik pengolahan yang luas, Kalimantan Timur dinilai berada pada posisi strategis untuk menjadi salah satu daerah yang paling diuntungkan dari implementasi program biodiesel B50 nasional.
Sumber : Pemprov
Editor : Abraham Johan
BACA JUGA
