Wisata Edukasi Perpustakaan Didorong Jadi Sarana Menumbuhkan Budaya Literasi

BALIKPAPAN,Inibalikpapan.com – Dinas Perpustakaan dan Arsip (Dispustakar) Kota Balikpapan bersama Tanoto Foundation memperkuat gerakan literasi anak melalui Focus Group Discussion (FGD) KIARA (Kelas Inspirasi Antar Penggerak).

Forum ini menjadi wadah menyatukan langkah berbagai pemangku kepentingan dalam membangun budaya membaca sejak usia dini.

FGD tersebut melibatkan unsur pentahelix yang terdiri atas pemerintah, akademisi, dunia pendidikan, komunitas literasi, pemerhati anak, dunia usaha, hingga media massa. Kolaborasi lintas sektor ini diharapkan mampu melahirkan program literasi yang saling terhubung dan berkelanjutan.

Kepala Dinas Perpustakaan dan Arsip Kota Balikpapan, Neny Dwi Winahyu, mengatakan pembangunan budaya literasi tidak bisa dibebankan hanya kepada sekolah maupun perpustakaan. Menurutnya, seluruh elemen masyarakat memiliki tanggung jawab untuk menciptakan lingkungan yang mendorong anak gemar membaca.

“FGD KIARA merupakan inisiatif yang digagas Tanoto Foundation bersama Dinas Perpustakaan dan Arsip Kota Balikpapan. Forum ini bertujuan menyusun program dan kegiatan berbasis pentahelix untuk meningkatkan literasi anak-anak di Kota Balikpapan,” ujar Neny, Selasa (4/8/2026).

Ia menjelaskan, forum tersebut juga menjadi ruang untuk menyamakan persepsi mengenai peran masing-masing pihak dalam mendukung gerakan literasi.

“Kami ingin setiap unsur memahami peran masing-masing sehingga gerakan literasi dapat berjalan secara berkesinambungan. Kalau semua bergerak bersama, dampaknya tentu akan jauh lebih besar dibandingkan jika bekerja sendiri-sendiri,” katanya.

Selain memperkuat kolaborasi, Dispustakar Balikpapan terus menghadirkan berbagai program yang mendekatkan perpustakaan kepada masyarakat. Salah satunya melalui kegiatan wisata edukasi yang rutin diikuti peserta didik jenjang TK, SD, hingga SMP.

Dalam kegiatan tersebut, anak-anak diajak mengenal fasilitas perpustakaan melalui berbagai aktivitas interaktif dan menyenangkan. Harapannya, perpustakaan menjadi tempat yang akrab bagi anak untuk belajar sekaligus menumbuhkan minat membaca.

“Melalui wisata edukasi, anak-anak dikenalkan dengan berbagai layanan perpustakaan sejak dini. Kami berharap mereka merasa senang datang ke perpustakaan, tumbuh rasa ingin membaca, dan menjadikan literasi sebagai bagian dari kehidupan mereka,” jelas Neny.

Menurutnya, literasi tidak hanya berkaitan dengan kemampuan membaca, tetapi juga membentuk pola pikir kritis, kreativitas, serta kemampuan anak dalam menyaring informasi di era digital.

Neny juga mengajak media massa untuk terus mendukung gerakan literasi melalui pemberitaan yang edukatif. Menurutnya, peran media sangat penting dalam membangun kesadaran masyarakat mengenai pentingnya membiasakan membaca sejak usia dini.

“Literasi adalah investasi jangka panjang. Dengan dukungan pemerintah, dunia pendidikan, komunitas, dunia usaha, media, dan keluarga, kami optimistis budaya membaca di Balikpapan akan semakin kuat dan mampu melahirkan generasi yang cerdas, kreatif, serta siap menghadapi tantangan masa depan,” pungkasnya.***

Penulis: Samsul

Editor : Ramadani

Tinggalkan Komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses