Rupiah Diproyeksikan Bisa Sentuh Rp17.900/Dolar AS, Pengamat Pasar Uang Punya Alasan Kuat

Ilustrasi uang rupiah (Pixabay/WonderfullBali)


JAKARTA, inibalikpapan.com – Rupiah diproyeksikan bisa melemah hingga Rp17.930 per dolar AS pekan depan. Meski angka itu masih sebatas simulasi pasar, kekhawatiran mulai muncul karena pelemahan rupiah biasanya berdampak langsung pada harga BBM nonsubsidi, bahan impor, hingga biaya hidup masyarakat.

Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi memproyeksikan rupiah masih berada dalam tekanan kuat akibat penguatan dolar AS yang dipicu ketegangan geopolitik Timur Tengah dan naiknya harga minyak dunia.

Saat ini rupiah berada di kisaran Rp17.597 per dolar AS. Dalam simulasi perdagangan pekan depan, rupiah diperkirakan bergerak di rentang Rp17.260 hingga Rp17.930 per dolar AS.

“Pertama untuk US dolar sendiri, indeks dolar kemungkinan besar dalam perdagangan minggu depan itu akan melebar,” ujar Ibrahim, Minggu (17/5/2026), dikutip dari Suara, jaringan inibalikpapan.com.

Harga Minyak Dunia Jadi Alarm Baru

Tekanan terhadap rupiah dinilai tidak berdiri sendiri. Konflik geopolitik di Timur Tengah, terutama terkait Selat Hormuz, ikut membuat dolar AS kembali diburu investor global sebagai aset aman.

Kondisi ini membuat harga minyak dunia berpotensi ikut naik. Dampaknya bisa terasa bagi negara pengimpor minyak seperti Indonesia.

Jika harga minyak terus naik sementara rupiah melemah, biaya impor energi dan bahan baku diperkirakan ikut meningkat.

“Artinya apa? Harga minyak, indeks dolar, ini masih akan menguat di minggu depan,” jelas Ibrahim.

Efeknya Bisa Sampai ke Harga Harian

Pelemahan rupiah biasanya paling cepat terasa pada sektor yang bergantung pada impor. Mulai dari BBM nonsubsidi, bahan pangan tertentu, elektronik, hingga industri manufaktur.

Meski pemerintah kerap menjaga stabilitas harga melalui subsidi dan intervensi pasar, tekanan kurs yang terlalu dalam berpotensi meningkatkan biaya distribusi dan produksi.

Di sisi lain, masyarakat juga mulai mengaitkan kondisi ini dengan naiknya biaya hidup sehari-hari.

Selat Hormuz dan Trump Jadi Sorotan Pasar

Pasar global kini menunggu perkembangan hubungan Iran dan Amerika Serikat terkait jalur pelayaran Selat Hormuz, salah satu jalur distribusi minyak paling penting di dunia.

Menurut Ibrahim, selama ketegangan belum mereda, permintaan dolar AS kemungkinan masih tinggi.

“Trump sendiri bolak-balik ingin adanya kesepakatan untuk membuka Selat Hormuz,” katanya.

Selain konflik Timur Tengah, hubungan dagang Amerika Serikat dan Tiongkok juga masih menjadi faktor yang membuat pasar keuangan global bergerak sangat sensitif.***

Tinggalkan Komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses