Nadir Ahmad Ar-Rasyidi, Santri 18 Tahun Asal Banjarbaru Tunaikan Haji Gantikan Mendiang Ayah

BALIKPAPAN,Inibalikpapan.com — Di usia yang masih sangat muda, Nadir Ahmad Ar-Rasyidi harus memikul amanah besar yang tidak semua orang mampu jalani. Santri berusia 18 tahun asal Banjarbaru itu berangkat menunaikan ibadah haji seorang diri untuk menggantikan mendiang ayahnya.

Dengan suara pelan dan mata yang tampak berkaca-kaca, Nadir mengaku perjalanan spiritual kali ini menjadi pengalaman penuh haru dalam hidupnya. Perasaan bahagia karena mendapat kesempatan berhaji bercampur dengan kesedihan karena harus menjalankan ibadah tanpa didampingi sang ayah.

“Perasaannya alhamdulillah terharu, bahagia, dan ada sedih. Semuanya campur aduk,” ujar Nadir saat ditemui sebelum keberangkatan, Minggu (17/5/2026).

Remaja asal Kalimantan Selatan itu mengatakan dirinya berangkat sendiri menuju Arab Saudi. Meski tanpa keluarga yang mendampingi, ia mengaku telah mempersiapkan diri dengan matang, baik secara fisik, mental, maupun ilmu agama.

“Persiapan alhamdulillah ada, dari fisik, mental, dan ilmu juga,” katanya.

Nadir saat ini masih menempuh pendidikan di Pondok Pesantren Al Falah Putra. Ia duduk di kelas 2 Aliyah yang setara dengan kelas 3 SMA. Keberangkatannya menunaikan ibadah haji dilakukan setelah menyelesaikan ujian sekolah.

Di balik keberangkatan tersebut, tersimpan pesan sederhana namun mendalam dari mendiang ayah yang hingga kini terus ia pegang teguh.

“Pesan mendiang ayah cukup menjadi anak yang baik dan berbakti kepada orang tua,” ungkapnya.

Kalimat itu menjadi penguat bagi Nadir dalam menjalani perjalanan ibadah yang penuh makna. Di usia remaja ketika banyak anak seusianya masih sibuk memikirkan masa depan dan pendidikan, Nadir justru harus belajar tentang kehilangan, keikhlasan, sekaligus tanggung jawab meneruskan amanah keluarga.

Meski berangkat sendiri, Nadir mengaku tetap mendapat dukungan penuh dari keluarga dan para guru di pondok pesantren. Doa serta pesan-pesan dari orang terdekat menjadi penyemangat baginya untuk menjalankan seluruh rangkaian ibadah dengan baik.

Ia berharap seluruh doa dan usaha yang dilakukan selama ini dapat dikabulkan Allah SWT serta ibadah hajinya berjalan lancar hingga kembali ke Tanah Air.

“Harapannya semoga apa yang sudah didoakan dan diusahakan bisa terkabul,” tuturnya.

Kisah Nadir menjadi potret keteguhan hati seorang anak muda dalam menjaga amanah orang tua. Di tengah duka kehilangan ayah, ia memilih melangkah dengan keyakinan, membawa doa keluarga menuju Tanah Suci.

Bagi Nadir, perjalanan haji bukan sekadar ibadah, tetapi juga bentuk bakti terakhir kepada sang ayah yang telah lebih dahulu berpulang.***

Tinggalkan Komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses