Swiss Bidik Sejarah Baru, Murat Yakin Punya Cara Tersendiri Tumbangkan Messi dan Argentina

Timnas Qatar berhasil menahan imbang timnas Swiss pada Piala dunia 2026

KANSAS, inibalikpapan.com – Tim nasional Swiss hanya berjarak satu kemenangan lagi untuk mencetak sejarah baru di Piala Dunia 2026. Setelah untuk pertama kalinya dalam lebih dari 70 tahun menembus babak perempat final, Swiss kini bertekad melangkah lebih jauh dengan menyingkirkan juara bertahan Argentina.

Laga perempat final akan berlangsung di Kansas City Stadium, Sabtu (12/7/2026), mempertemukan dua tim dengan karakter permainan yang bertolak belakang. Argentina mengandalkan pengalaman dan kualitas individu, sedangkan Swiss datang dengan organisasi permainan yang disiplin serta pertahanan yang kokoh.

Keberhasilan Swiss mencapai delapan besar menjadi pencapaian terbaik sejak Piala Dunia 1954. Tiket perempat final diraih setelah mereka menyingkirkan Kolombia melalui drama adu penalti usai bermain imbang tanpa gol selama 120 menit.

Hasil Perjalanan Panjang

Kapten Swiss Granit Xhaka menyebut pencapaian tersebut sebagai hasil dari perjalanan panjang yang penuh kegagalan di fase gugur selama beberapa edisi terakhir.

“Piala Dunia 2014 adalah turnamen besar pertama saya bersama Swiss. Kami sudah mengikuti banyak turnamen, tetapi sering kali keberuntungan tidak berpihak kepada kami, termasuk beberapa kali tersingkir lewat adu penalti.”

Bagi gelandang berusia 33 tahun itu, keberhasilan membawa Swiss ke perempat final menjadi kebanggaan tersendiri setelah tiga kali berturut-turut gagal melewati babak 16 besar.

“Merupakan sebuah kehormatan menjadi kapten tim ini dan mewakili negara saya. Lebih istimewa lagi sekarang karena kami berhasil melangkah sejauh ini.”

Meski harus menghadapi Argentina yang diperkuat Lionel Messi, Xhaka menegaskan timnya tidak datang hanya untuk bertahan.

“Kami tahu kami akan menghadapi salah satu tim terbaik dalam sejarah sepak bola, atau setidaknya dalam generasi kami. Kami harus menikmati pertandingan ini dan menunjukkan kepada dunia bahwa negara kecil seperti Swiss mampu menyulitkan raksasa sepak bola.”

Masih Ada Celah

Argentina sendiri memang melaju mulus di fase grup, namun perjalanan mereka di fase gugur tidak sepenuhnya mudah. Tim asuhan Lionel Scaloni sempat dipaksa bekerja keras saat menghadapi Tanjung Verde dan Mesir sebelum akhirnya memastikan tiket ke babak perempat final.

Pelatih Swiss Murat Yakin melihat celah yang bisa dimanfaatkan timnya melalui permainan kolektif dan pertahanan yang disiplin.

“Kami memiliki tim yang solid. Secara defensif kami sangat kuat. Kami sudah menunjukkannya dalam dua pertandingan terakhir dengan tidak kebobolan. Kami juga tahu bisa menyulitkan lawan melalui serangan balik.”

Sepanjang turnamen, Swiss baru kebobolan satu gol. Penampilan gemilang kiper Gregor Kobel menjadi salah satu faktor utama kokohnya lini pertahanan mereka.

Yakin menilai satu-satunya cara menghentikan Argentina adalah bermain sebagai sebuah tim.

“Kami ingin membuat mereka kesulitan dan memanfaatkan titik lemah mereka sambil memainkan kekuatan kami sendiri.”

“Hanya ada satu cara untuk mengalahkan Argentina dan Messi, yaitu bermain sebagai sebuah tim.”

Menurut Yakin, semangat besar yang dimiliki Xhaka telah menular kepada seluruh skuad. Ia mengungkapkan sang kapten bahkan sudah lama berbicara mengenai mimpi membawa Swiss melangkah hingga partai final.

“Dia sudah bertahun-tahun berbicara tentang mencapai final. Dulu hanya dia yang memiliki keyakinan itu, tetapi sekarang semakin banyak pemain yang memiliki kualitas dan visi yang sama.”

Kehormatan Melawan Messi

Bagi Xhaka, mengenakan ban kapten bukan sekadar tanggung jawab di lapangan, tetapi juga menjadi motivasi untuk terus membawa Swiss melampaui batas yang selama ini dianggap mustahil.

“Saya sudah memikul tanggung jawab sejak masih muda. Sekarang saya bisa membawanya ke tim ini. Tekanannya memang besar, tetapi merupakan sebuah kehormatan menjadi kapten dan mewakili negara.”

Menghadapi Lionel Messi juga menjadi pengalaman yang dinantikan Xhaka. Namun ia menegaskan Swiss tidak akan sekadar menikmati pertandingan.

“Merupakan sebuah kehormatan bermain melawan Messi. Kami ingin memberikan segalanya dan memainkan pertandingan yang nantinya bisa kami kenang dengan bangga, apa pun hasilnya. Kami ingin bisa mengatakan bahwa kami sudah melakukan segala cara untuk mengalahkan Argentina.”

Jika berhasil menyingkirkan juara bertahan, Swiss akan mencatat sejarah baru dengan lolos ke semifinal Piala Dunia untuk pertama kalinya. Tantangan berat memang menanti, tetapi keyakinan dan disiplin permainan menjadi modal utama tim berjuluk Nati untuk kembali menciptakan kejutan di Piala Dunia 2026.***

Tinggalkan Komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses