Tak Lagi Dipandang Kuno, Pertanian Organik Mulai Diminati Generasi Muda
MOJOKERTO, inibalikpapan.com — Pertanian organik kini tak lagi identik dengan cara lama dan pekerjaan berat di sawah. Di Desa Penanggungan, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto, konsep pertanian organik justru berkembang lebih modern, efisien, dan mulai menarik minat generasi muda.
Perubahan itu dikembangkan Direktur Brenjonk sekaligus pegiat petani organik, Slamet. Melalui pemanfaatan teknologi hingga penguatan pasar produk organik, pertanian perlahan menjadi sektor usaha yang menjanjikan.
Wawancara dengan Slamet berlangsung dalam rangka kegiatan Tinta BI Balikpapan 2026 yang digelar untuk peningkatan kapasitas wartawan ekonomi Balikpapan.
Menurut Slamet, anak muda sekarang mulai melihat pertanian dari sudut pandang berbeda. Bukan hanya soal menanam dan panen, tetapi juga peluang bisnis hingga pengembangan produk turunan.
“Anak-anak muda sekarang melihat pertanian bukan sekadar mencangkul. Ada teknologi, ada produk turunan, ada peluang usaha. Ketika mereka punya usaha kuliner, mereka mulai berpikir soal bahan baku murah dan sehat. Dari situ mereka belajar menanam sendiri,” kata Slamet saat kegiatan Tinta BI Balikpapan 2026 yang digelar untuk peningkatan kapasitas wartawan ekonomi Balikpapan.
Selama hampir 18 tahun mengembangkan pertanian organik, ia menyebut masa balik modal atau break even point (BEP) umumnya tercapai pada tahun ketiga. Setelah kondisi tanah kembali sehat, biaya produksi dinilai jauh lebih hemat dibanding awal pengelolaan lahan.
Drone Pertanian Pangkas Biaya Operasional 40 Persen
Salah satu teknologi yang kini dimanfaatkan yakni drone untuk penyemprotan lahan pertanian. Drone tersebut merupakan bantuan Bank Indonesia pada 2022. Penggunaan teknologi ini mampu menekan biaya operasional hingga 40 persen dibanding cara konvensional.
“Drone membantu pekerjaan berat petani, terutama yang sudah lanjut usia. Penyemprotan jadi lebih cepat dan efisien tanpa harus memanggul tangki,” ujarnya.
Meski belum memiliki aplikasi digital khusus untuk memantau produksi maupun panen, penggunaan drone disebut menjadi langkah awal menuju sistem smart farming di kawasan tersebut.

Di lahan organik Brenjonk, berbagai komoditas dikembangkan mulai padi merah, padi hitam, padi putih, hingga pandan wangi. Selain itu, ada sekitar 45 jenis sayuran lokal maupun impor seperti kailan dan rukola yang menyasar pasar modern.
Hasil panen mereka kini sudah memiliki pasar tetap. Produk organik Brenjonk dipasok ke sejumlah supermarket, hotel, hingga kafe di berbagai daerah. Beberapa jaringan ritel seperti Papaya, Ranch Market, Hokky, hingga restoran organik di Surabaya menjadi mitra distribusi hasil panen.
Pertanian Organik Dinilai Lebih Tahan Hadapi Perubahan Iklim
Tak hanya soal bisnis, Slamet juga menilai pertanian organik menjadi salah satu solusi menghadapi perubahan iklim. Sistem organik dinilai mampu menjaga kesuburan tanah sekaligus meningkatkan daya serap air, sehingga lahan tetap bertahan saat musim kering maupun fenomena El Nino.
“Tanah organik itu gembur, hidup, dan mampu menyimpan air lebih lama. Ketika hujan turun, air terserap maksimal sehingga cadangan air tanah tetap terjaga,” jelasnya.
Ia menggambarkan kondisi tanah organik mirip kawasan hutan lindung yang lembap, sejuk, dan kaya unsur hayati. Prinsip zero waste atau tanpa limbah juga diterapkan dengan memanfaatkan seluruh sumber daya lokal secara berputar di dalam sistem pertanian.
Pendekatan tersebut membuat pertanian organik kini bukan hanya dipandang sebagai metode bercocok tanam, tetapi juga gerakan menjaga ketahanan pangan dan kesehatan lingkungan.
Di tengah ancaman krisis pangan dan perubahan iklim, konsep smart farming seperti di Mojokerto dinilai bisa menjadi salah satu model pertanian masa depan di Indonesia.
BACA JUGA
