BBM Balikpapan Dikirim ke Indonesia Timur, Pertamina Pastikan Stok Warga Tetap Aman

Fasilitas Integrated Terminal Balikpapan milik Pertamina.
Fasilitas Integrated Terminal Balikpapan milik Pertamina. Foto: Pertamina Patra Niaga

BALIKPAPAN, inibalikpapan.com – PT Pertamina Patra Niaga memastikan pengiriman bahan bakar minyak (BBM) dari Balikpapan ke sejumlah wilayah Indonesia Timur tidak akan mengurangi pasokan bagi masyarakat Kalimantan Timur.

Pertamina menyebut distribusi BBM dilakukan lewat sistem pasokan terintegrasi yang menghubungkan kilang dan terminal BBM di berbagai daerah. Dengan skema ini, suplai bisa disesuaikan sesuai kebutuhan setiap wilayah.

Executive General Manager PT Pertamina Patra Niaga Regional Kalimantan, Isfahani, mengatakan Kilang Balikpapan menjadi salah satu penopang utama pasokan BBM untuk Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, hingga beberapa wilayah Indonesia Timur.

“Penyaluran BBM se-Indonesia, Pertamina itu terintegrasi,” kata Isfahani, Kamis (17/9/2026).

Menurutnya, distribusi BBM tidak dibatasi berdasarkan wilayah secara kaku. Jika diperlukan, pasokan bisa didukung dari kilang lain seperti Dumai maupun Cilacap agar kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi.

“Jadi tidak berarti ketika kita mengirim ke wilayah lain, kebutuhan lokal kemudian berkurang,” ujarnya.

Stok BBM Aman Hampir 15 Hari

Dari sisi ketersediaan, Pertamina memastikan stok BBM di Kalimantan dalam kondisi aman. Ketahanan stok saat ini mencapai rata-rata hampir 15 hari operasional.

Cadangan tersebut dijaga melalui produksi kilang yang berlangsung berkelanjutan, ditambah pasokan dari pengiriman kargo. Pola ini membuat distribusi dapat disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing daerah.

“Stok dalam kondisi aman, rata-rata ketahanannya hampir 15 hari operasional,” tegas Isfahani.

Di sisi lain, Pertamina juga terus memantau penyaluran BBM bersubsidi bersama Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas).

Isfahani mengungkapkan konsumsi Pertalite di Balikpapan melonjak hampir 24 persen setelah harga Pertamax naik pada periode Juni–Juli 2026.

Menurutnya, kenaikan itu dipicu semakin lebarnya selisih harga antara BBM nonsubsidi dan BBM bersubsidi sehingga sebagian pengguna Pertamax beralih ke Pertalite.

Kondisi tersebut menjadi perhatian Pertamina agar distribusi BBM bersubsidi tetap sesuai ketentuan, sekaligus menjaga keseimbangan antara kebutuhan daerah, stok, dan pengiriman antarwilayah.***

Penulis: Samsul
Editor: Rizki

Tinggalkan Komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses