Dekarbonisasi Transportasi Didorong, Angkutan Umum Berbasis Baterai Disiapkan

BALIKPAPAN,Inibalikpapan.com — Pemerintah mendorong percepatan dekarbonisasi sektor transportasi darat seiring berkembangnya konsep kota hijau dan cerdas di kawasan Kalimantan Timur. Penggunaan kendaraan berbasis baterai dinilai menjadi salah satu langkah penting untuk mengurangi emisi sekaligus memperkuat layanan transportasi publik.

Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan, Irjen Pol (Purn) Drs. Aan Suhanan, M.Si., mengatakan arah pengembangan transportasi ke depan tidak dapat dilepaskan dari agenda transisi energi dan pengurangan emisi karbon.

Menurut dia, keberadaan Ibu Kota Nusantara (IKN) yang dirancang sebagai kota cerdas dan hijau turut menjadi momentum untuk mempercepat penggunaan kendaraan listrik di Kalimantan Timur.

“Program dekarbonisasi, kita akan menuju ke sana. Apalagi IKN nanti merupakan kota smart dan green. Kendaraan yang bisa masuk ke sana adalah kendaraan-kendaraan yang berbasis baterai,” ujar Aan. belum lama ini.

Ia mengatakan pemerintah akan mendukung penggunaan kendaraan berbasis baterai, termasuk melalui pengembangan layanan angkutan umum dengan skema Buy The Service (BTS).

Dalam program BTS yang tengah dikembangkan, pemerintah menargetkan sebagian armada angkutan umum menggunakan kendaraan berbasis baterai. Porsi kendaraan tersebut ditargetkan mencapai 50 persen.

“Di program BTS angkutan darat yang sekarang sedang kita bangun, 50 persen sudah harus menggunakan kendaraan berbasis baterai,” katanya.

Untuk Kota Samarinda, penerapan layanan angkutan umum berbasis baterai masih berada pada tahap kajian. Pemerintah berharap proses tersebut dapat segera diselesaikan sehingga implementasi program memungkinkan dilakukan mulai 2027.

Namun, pelaksanaannya tetap bergantung pada hasil kajian serta dukungan kebijakan dan anggaran.

Aan juga membuka peluang keterlibatan pemerintah daerah apabila dukungan program BTS dari pemerintah pusat belum tersedia. Menurut dia, sejumlah daerah telah mengalokasikan anggaran sendiri untuk menjaga keberlanjutan layanan transportasi publik.

“Kemudian kalau dari pemerintah pusat tidak ada program BTS, pemerintah daerah juga bisa mengalokasikan anggarannya untuk mendukung program BTS. Itu sudah banyak dilakukan beberapa pemerintah daerah lainnya,” ujarnya.

Bacitra Jadi Gambaran Minat Warga

Aan juga menyoroti tingginya tingkat keterisian atau load factor layanan transportasi publik Bacitra di Balikpapan. Berdasarkan laporan yang diterimanya, tingkat keterisian layanan tersebut berada pada kisaran 90–100 persen.

Jadi Pilihan Mobilitas

Tingginya load factor menunjukkan masyarakat mulai menjadikan angkutan umum sebagai pilihan mobilitas.

“Artinya masyarakat ini banyak yang memanfaatkan Bacitra. Saya kira ini hal yang bagus, responsnya positif,” kata Aan.

Menurut dia, layanan transportasi publik akan semakin menarik apabila dikembangkan dengan konsep yang terintegrasi dengan pusat kegiatan masyarakat atau transit oriented development (TOD).

Kawasan seperti Balikpapan Superblock (BSB) Mall, misalnya, dapat menjadi titik integrasi transportasi publik. Persoalan keterbatasan dan mahalnya biaya parkir kendaraan pribadi dapat menjadi peluang bagi angkutan umum untuk menawarkan kemudahan.

Dengan menggunakan Bacitra, masyarakat tidak perlu lagi memikirkan tempat parkir. Penumpang dapat turun langsung di kawasan tujuan dan melanjutkan aktivitas tanpa membawa kendaraan pribadi.

Pengembangan seperti itu, kata Aan, memperlihatkan bahwa transportasi publik bukan semata-mata soal menyediakan kendaraan, melainkan membangun ekosistem mobilitas yang membuat masyarakat bersedia meninggalkan kendaraan pribadi.

Pada akhirnya, dekarbonisasi transportasi tidak hanya berbicara mengenai pergantian mesin berbahan bakar fosil dengan baterai. Perubahan yang lebih penting adalah membangun sistem transportasi publik yang nyaman, mudah diakses, terintegrasi, dan benar-benar menjadi pilihan masyarakat.

Bagi Kalimantan Timur, arah tersebut menjadi semakin relevan seiring hadirnya IKN dan kebutuhan membangun konektivitas antarkota yang lebih rendah emisi. Jika transportasi publik mampu menjawab kebutuhan sehari-hari warga, transisi menuju mobilitas hijau bukan lagi sekadar wacana, melainkan bagian dari perubahan perilaku masyarakat.***

Penulis : Samsul

Editor : Ramadani

Tinggalkan Komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses