Singkong Karang Joang Naik Kelas, dari Hasil Kebun Menjadi Produk UMKM
BALIKPAPAN,Inibalikpapan.com — Singkong yang selama ini lebih banyak dijual sebagai hasil panen mulai mendapat nilai tambah di Kelurahan Karang Joang, Kecamatan Balikpapan Utara. Melalui UMKM Singjaju 16, kelompok ibu-ibu tani di RT 16 mengolah singkong menjadi tepung yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.
Inisiatif tersebut menjadi bagian dari upaya warga Kampung Mandiri untuk tidak berhenti pada produksi bahan mentah. Hasil kebun petani setempat mulai diolah menjadi produk yang dapat dipasarkan, sekaligus membuka peluang usaha baru bagi masyarakat.
Wakil Wali Kota Balikpapan Bagus Susetyo mengapresiasi langkah tersebut saat meninjau kegiatan warga, Minggu (30/8/2026). Menurut dia, pengolahan hasil pertanian merupakan bentuk kreativitas masyarakat yang perlu terus didorong.
“Ini satu hal yang positif dan mudah-mudahan memberikan inspirasi kepada para petani yang ada di Kelurahan Karang Joang,” kata Bagus.
Singjaju 16 bermula dari gagasan kelompok ibu-ibu tani yang melihat potensi singkong cukup besar di wilayah mereka. Daripada seluruh hasil panen dijual dalam bentuk mentah, sebagian singkong diolah menjadi tepung sehingga menghasilkan produk dengan nilai jual lebih tinggi.
Pengembangan usaha itu juga mendapat dukungan dari pihak swasta. Perusahaan Reman membantu menyediakan sejumlah peralatan pengolahan, mulai dari alat pengupas hingga perangkat yang digunakan dalam proses produksi tepung singkong.
Bagi Bagus, kolaborasi tersebut menunjukkan bahwa penguatan ekonomi masyarakat tidak harus selalu bertumpu pada bantuan pemerintah. Potensi lokal, kreativitas warga, serta dukungan dunia usaha dapat dipertemukan untuk menciptakan kegiatan ekonomi yang berkelanjutan.
“Ini bentuk kolaborasi pemerintah kota, kemudian pihak swasta, kemudian dari petani,” ujarnya.
Namun, Bagus mengingatkan bahwa tantangan UMKM tidak berhenti pada kemampuan memproduksi barang. Setelah kapasitas produksi terbentuk, persoalan berikutnya adalah bagaimana produk tersebut menemukan pasar dan memiliki konsumen yang berkelanjutan.
Ikut Bantu UMKM
Karena itu, ia meminta perangkat daerah terkait, khususnya yang menangani UMKM, koperasi, dan industri, ikut membantu membuka akses pemasaran Singjaju 16.
“Saya melihat mungkin dari pihak kepala dinas, dalam hal ini UMKM dan koperasi, industri, untuk bisa membantu di dalam pemasaran,” katanya.
Selain pemasaran, pemerintah juga membuka peluang dukungan terhadap kelompok tani melalui penyediaan sarana dan peralatan pertanian. Dukungan tersebut dinilai penting untuk menjaga produktivitas petani sekaligus memastikan ketersediaan bahan baku bagi usaha pengolahan.
Bagus meminta pemerintah kecamatan dan kelurahan menginventarisasi kebutuhan masyarakat agar dapat diusulkan melalui Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang).
“Mudah-mudahan Pak Lurah, Pak Camat bisa mengantisipasi dalam Musrenbang untuk tahun 2028,” ujarnya.
Kehadiran Singjaju 16 memperlihatkan bahwa pengembangan ekonomi lokal dapat dimulai dari potensi sederhana di sekitar warga. Singkong dari kebun tidak lagi sekadar menjadi komoditas mentah, tetapi mulai menjadi bagian dari rantai usaha yang melibatkan petani, kelompok perempuan, UMKM, dunia usaha, dan pemerintah.
Dari proses tersebut, semangat Kampung Mandiri menemukan maknanya: masyarakat tidak hanya menjadi penerima manfaat pembangunan, tetapi ikut menciptakan nilai ekonomi dari potensi yang mereka miliki sendiri.***
Penulis : Samsul
Editor : Ramadani
BACA JUGA
