Merayakan Kesahajaan Kartini di Balikpapan Melalui Literasi 

REFLEKSI HARI KARTINI - Pegiat Literasi Balikpapan menggelar bedah buku Door Duisternis tot Licht yang diterjemahkan oleh Armijn Pane yang kemudian jadi "Habis Gelap Terbitlah Terang." Acaranya digelar di ruang terbuka hijau, Taman Tiga Generasi, Jalan Ruhui Rahayu, Sepinggan, Kota Balikpapan, Provinsi Kalimantan Timur pada Minggu 19 April 2026 sore dengan payung langit yang mendung tanpa hujan, adem dan tentram. (HO/Muchlis PLB)
REFLEKSI HARI KARTINI - Pegiat Literasi Balikpapan menggelar bedah buku Door Duisternis tot Licht yang diterjemahkan oleh Armijn Pane yang kemudian jadi "Habis Gelap Terbitlah Terang." Acaranya digelar di ruang terbuka hijau, Taman Tiga Generasi, Jalan Ruhui Rahayu, Sepinggan, Kota Balikpapan, Provinsi Kalimantan Timur pada Minggu 19 April 2026 sore dengan payung langit yang mendung tanpa hujan, adem dan tentram. (HO/Muchlis PLB)

BALIKPAPAN, Inibalikpapan.com – DALAM sebuah lagu ciptaan Wage Rudolf Supratman, Kartini disebut ibu. 

“Ibu kita Kartini. Pendekar bangsa. Pendekar kaumnya. Untuk merdeka”. Itulah di antara penggalan isi lagu yang diciptakan tahun 1929 masehi.

Padahal untuk zaman sekarang, era Gen Z ini, bila Kartini masih hidup, pasti disapa dengan sebutan “adek”, “cewek” atau pemudi.

Kartini ditakdirkan mati muda, menginjak umur 25 tahun Kartini tutup usia.  

Kini, saban 21 April, masyarakat Indonesia diingatkan lahirnya Kartini.

Ini bukan sekadar merayakan ulang tahun hari lahirnya sis Kartini, tetapi lebih bermakna lagi, yakni mengenal figur perempuan yang pemberani dan pendobrak pakem feodalisme yang mengurat nadi.

Sebagai refleksi untuk suburkan nilai-nilai semangat juang Kartini, belasan orang dari Pegiat Literasi Balikpapan menggelar bedah buku Door Duisternis tot Licht yang diterjemahkan oleh Armijn Pane yang kemudian jadi “Habis Gelap Terbitlah Terang.”

Acaranya digelar di ruang terbuka hijau, Taman Tiga Generasi, Jalan Ruhui Rahayu, Sepinggan, Kota Balikpapan, Provinsi Kalimantan Timur pada Minggu 19 April 2026 sore dengan payung langit yang mendung tanpa hujan, adem dan tentram.

Dan sebagai simbol pemaknaan, langkah untuk bisa khusuk dalam kegiatan bedah buku soal Kartini, kami yang dari lintas usia, tumpahkan raga dan pikiran di Taman Tiga Generasi Balikpapan kompak memakai fashion batik atau kebaya.

Hal itu sebagai bentuk refleksi untuk mengenang identitas visual dan kesahajaan sosok Kartini.

Kali ini yang berperan sebagai pemantik diskusi buku diuraikan oleh Nisa.

“Buku Habis Gelap Terbitlah Terang terbitan Balai Pustaka. Setiap terbit selalu habis, sudah untuk mencari bukunya. Sebelum dicetak saja, sudah ada yang pesan duluan,” ujar perempuan berkacamata ini. 

Di panggung beton Taman Tiga Generasi, berbekal referensi buku “Habis Gelap Terbitlah Terang,” Nisa menjabarkan, sepak terjang Kartini yang cerdas, pemberani, doyan membaca dan menulis.   

Satu bentuk catatan sejarah yang tergores, Kartini menulis surat yang isinya soal kegelisahan atas eksistensi feodalisme yang dianggap tidak adil bagi seluruh masyarakat Jawa. 

Juga menulis surat tentang kritik sosial, tumpahkan ide-ide kemajuan untuk masyarakat di sekeliling kerajaan dan bersemangat untuk mencerdaskan kehidupan bangsa lokal.  

Itu semua dicurahkan ke secarik kertas, dikirim ke di antaranya Estelle Stella Zeehandelaar hingga J.H Abendanon.

Andai ditarik ke zaman satelit palapa beredar di angkasa luar, aktivitas Kartini tersebut bisa dibilang dengan sebutan journaling; mencatat pikiran, perasaan, pengalaman, atau pengamatan sehari-hari secara rutin dalam basis literasi. 

Lalu benang merah, keberanian Kartini lainnya, diungkapan Nisa. Soal jati diri Kartini yang tangguh, berpikir visioner maju, tidak takut terhadap status quo, menentang pembodahan terhadap masyarakat. 

Disebutkan, sebelum Kartini menikah dengan Bupati berdarah biru yang terkesan dipaksakan di tahun 1903, Kartini melemparkan daya tawar, mengajukan syarat yang muncul dari pikirannya. 

Ada 3 hal permintaan Kartini, yang dijabarkan dalam buku Habis Gelap Terbitlah Terang, yakni:

-Kebebasan Membuka Sekolah dan Mengajar;
-Larangan Melakukan Tradisi Berjalan Jongkok Menyembah Kaki;
-Menggunakan Bahasa Jawa Ngoko Bukan Bahasa Kromo Inggil.

Dari pola pikir dan gaya hidup Kartini itu bisa jadi teladan untuk generasi muda kini. Intinya Kartini, menawarkan tiga life style yang bisa diterapkan sepanjang masa. Apa itu? Yakni baca, tulis dan kritis. 

Kartini memang dikenal doyan membaca, selain Al Quran, di antaranya membaca buku karya Multatuli berjudul ‘Lelang Kopi Perusahaan Dagang Belanda’ yang dalam bahasa Belanda ‘Max Havelaar’ (1860). Ini buku sastra yang gambarkan tentang kekejaman sistem Tanam Paksa kala itu.  

Seringnya membaca, Kartini mengiringinya dengan menulis. Saat itu Mark Zuckerberg, Kevin Systrom, Mike Krieger belum lahir ke dunia, Kartini mengekspresikan tulisannya melalui secarik kertas bernama surat, dikirim ke sahabat penanya di Belanda.

Kartini yang gemar membaca, melahap semua sumber literasi dan kemudian meluangkan diri menulis atas dasar serapan informasi yang diperoleh dan penceraan pikirannya, terdorong untuk memposisikan diri figur yang kritis.

Hal-hal yang dianggap tidak adil, sesuatu yang tidak pas pada tempatnya dikritik dengan memberikan solusi yang tepat untuk sebagai jawaban yang ideal untuk dilakukan. Seperti halnya kritik gaya hidup seorang pria ningrat memiliki istri dan selir banyak, yang pada kemudian idealismenya Kartini hilang menguap.

Hingga pada ujungnya, Kartini pun harus tenggelam, terjerembab juga pada pelukan pria bernama K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat, Bupati Rembang yang berperilaku poligami. 

Pesan dari semua kisah hidup Kartini, bagi anak-anak zaman sekarang, bisa diambil maknanya.

Sebelum lahirnya negara Republik bernama Indonesia Raya, Kartini telah mengajarkan, marilah berliterasi, baca, tulis, dan kritis untuk kemajuan bangsa dengan pupuk rasa persaudaraan, kebebasan berpikir, dan persamaan sebagai manusia. 

Oleh: Budi Susilo (Pegiat Literasi Balikpapan/Tukang Kebun Gala Puncak)

Tinggalkan Komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses