Pelemahan Rupiah Dinilai Musiman, BI Balikpapan Pastikan Inflasi Kaltim Masih Terkendali

Bank Indonesia menilai pelemahan rupiah yang terjadi saat ini masih dalam pola normal tahunan atau musiman.
Deputi Kepala Perwakilan BI Balikpapan Umran Usman saat menyampaikan paparan dalam kegiatan Capacity Building Wartawan Tahun 2026 yang digelar Bank Indonesia di Surabaya, 21–22 Mei 2026. Foto: Ist

BALIKPAPAN, inibalikpapan.com — Bank Indonesia menilai pelemahan rupiah yang terjadi saat ini masih dalam pola normal tahunan atau musiman. Kondisi serupa hampir selalu terjadi pada pertengahan tahun ketika kebutuhan dolar Amerika Serikat meningkat.

Manajer Divisi Perencanaan dan Pengendalian Komunikasi Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Nanda Rizki Fauziah, mengatakan kenaikan permintaan dolar dipicu beberapa faktor rutin seperti pembayaran dividen perusahaan, kebutuhan ibadah haji, hingga pembayaran utang luar negeri.

“Kalau melihat data historis, memang pada periode seperti ini permintaan valuta asing meningkat. Ada pembayaran dividen, kebutuhan haji, sampai utang dan bunga utang,” ujarnya dalam kegiatan Capacity Building Wartawan 2026 di Surabaya, Kamis (21/5/2026).

Selain faktor domestik, situasi global juga ikut memberi tekanan terhadap rupiah. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah dinilai memicu ketidakpastian pasar keuangan internasional sehingga dolar AS kembali menguat.

BI menilai pelemahan rupiah hanya bersifat sementara. Pada semester II 2026, nilai tukar rupiah diproyeksikan kembali membaik seiring arus modal yang mulai masuk dan kondisi ekonomi nasional yang tetap terjaga.

Harga Kemasan dan Logistik Mulai Diwaspadai

Meski begitu, BI Balikpapan memastikan kondisi ekonomi daerah masih cukup kuat menghadapi tekanan global tersebut.

Deputi Kepala Perwakilan BI Balikpapan, Umran Usman, mengatakan dampak pelemahan rupiah paling cepat biasanya terasa pada sektor yang masih bergantung pada bahan impor, termasuk kemasan makanan dan minuman.

Karena itu, pemerintah daerah bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) mulai menyiapkan langkah mitigasi untuk menjaga harga kebutuhan pokok tetap stabil.

“Komponen impor pasti berdampak terhadap harga. Makanya kami bersama pemerintah daerah melakukan langkah mitigasi lewat High Level Meeting TPID,” jelasnya.

Selain pelemahan rupiah, pemerintah juga mewaspadai ancaman kekeringan panjang di sentra pangan Pulau Jawa yang berpotensi memengaruhi distribusi pangan ke Kalimantan.

Kenaikan biaya logistik dan kebutuhan BBM menjelang Iduladha juga menjadi perhatian pemerintah daerah.

Pasar Murah dan Stok Pangan Disiapkan

Untuk menekan risiko kenaikan harga, TPID bersama pemerintah daerah mulai menggencarkan gerakan pangan murah dan pasar murah di sejumlah wilayah. Selain itu, operasi pasar juga diperkuat untuk menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok.

Ketersediaan stok pangan melalui Bulog dan distribusi energi oleh Pertamina juga terus dipantau agar tidak terjadi gangguan pasokan.

Langkah ini dinilai penting karena Kalimantan Timur masih bergantung pada pasokan pangan dari luar daerah, terutama Pulau Jawa dan Sulawesi.

Di tengah tekanan global dan pelemahan rupiah, Bank Indonesia menyebut tingkat optimisme masyarakat Kalimantan Timur masih cukup tinggi.

Hasil survei konsumen BI menunjukkan indeks keyakinan konsumen tetap berada di atas level 100 atau berada dalam zona optimistis.

“Artinya masyarakat masih optimistis terhadap kondisi ekonomi enam bulan ke depan, baik dari sisi penghasilan maupun lapangan kerja,” ujar Umran.

Optimisme itu juga didukung pertumbuhan ekonomi Kalimantan Timur pada triwulan I 2026 yang mencapai 5,61 persen.

Angka tersebut menjadi sinyal positif bahwa ekonomi daerah masih cukup kuat menghadapi gejolak global. Termasuk kawasan penyangga IKN yang dinilai tetap mampu bertahan di tengah fluktuasi nilai tukar rupiah.***

Tinggalkan Komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses