Rupiah Cetak Rekor Terlemah Sejak 1998, Pengamat Ingatkan Dampak Pernyataan Prabowo

Prabowo Subianto meresmikan operasionalisasi 1.061 Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP)
Prabowo Subianto meresmikan operasionalisasi 1.061 Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) (foto : Setpres)

BALIKPAPAN, inibalikpapan.com – Rupiah kembali tertekan hingga mencetak rekor terburuk sepanjang sejarah pada perdagangan Senin (18/5/2026). Nilai tukar mata uang Indonesia menyentuh level Rp17.645 per dolar AS di tengah gejolak global dan sentimen negatif dari dalam negeri.

Data Reuters pada pukul 10.50 WIB menunjukkan rupiah melemah 1,17 persen ketimbang perdagangan sebelumnya. Posisi tersebut menjadi level terendah rupiah secara intraday sejak krisis moneter 1998.

Tekanan terhadap rupiah terjadi setelah ketegangan geopolitik di Timur Tengah memicu lonjakan harga minyak dunia dan penguatan dolar AS sebagai aset aman (safe haven).

Indonesia yang masih bergantung pada impor minyak ikut terdampak besar. Kebutuhan impor sekitar 1,5 juta barel per hari membuat permintaan dolar meningkat tajam.

“Dengan kenaikan harga minyak mentah yang cukup signifikan dan indeks dolar yang menguat, kebutuhan dolar dari Indonesia menjadi sangat tinggi,” ujar Pengamat Komoditas dan Mata Uang Ibrahim Assuaibi, melansir dari Suara, jaringan inibalikpapan.com.

Rupiah Melemah Hampir 12 Persen di Era Prabowo

Jika dihitung sejak awal tahun, rupiah tercatat sudah melemah sekitar 5,99 persen. Sementara sejak pemerintahan Presiden Prabowo Subianto bermula pada Oktober 2024, nilai tukar rupiah telah turun hampir 12 persen dari kisaran Rp15.400 per dolar AS.

Kondisi ini membuat pasar semakin sensitif terhadap berbagai pernyataan pemerintah terkait ekonomi dan stabilitas rupiah.

Sentimen pasar kabarnya semakin memburuk setelah muncul pernyataan Presiden Prabowo Subianto beberapa hari sebelumnya yang menilai masyarakat desa tidak terlalu terdampak pelemahan dolar AS.

Pernyataan tersebut memicu respons negatif sebagian pelaku pasar karena tidak mencerminkan tekanan nyata yang sedang ekonomi nasional hadapi.

“Pernyataan Presiden Prabowo ini dijadikan alasan oleh para investor di pasar untuk melakukan aksi beli dolar. Sehingga rupiah terus mengalami pelemahan yang cukup signifikan,” tutur Ibrahim.

Menurutnya, pasar saat ini membutuhkan langkah konkret pemerintah untuk menjaga kepercayaan investor dan menenangkan pelaku ekonomi.

Harga Tempe hingga BBM Bisa Terdampak

Pelemahan rupiah tidak hanya berdampak pada sektor keuangan, tetapi juga berpotensi menekan harga kebutuhan sehari-hari masyarakat.

Kenaikan harga minyak mentah dunia dapat memperbesar beban impor energi nasional. Di saat bersamaan, bahan baku pangan seperti kedelai impor untuk tahu dan tempe juga ikut terdampak penguatan dolar AS.

Karena itu, pengamat menilai pemerintah perlu segera memperkuat strategi stabilisasi pasar, termasuk mempercepat implementasi program energi alternatif seperti biodiesel B50 guna menekan ketergantungan impor minyak.***

Tinggalkan Komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses