Rumah Baru di Balikpapan Kian Mahal, Developer Mulai Ubah Strategi

Perumahan baru di Balikpapan terus bertambah meski penjualan rumah masih lesu pada triwulan I 2026.
Ilustrasi proyek pembangunan perumahan. Foto: AI

BALIKPAPAN, inibalikpapan.com, – Harga rumah Balikpapan terus naik pada awal 2026, tetapi jumlah pembeli justru turun tajam. Di tengah efek pembangunan IKN dan kenaikan biaya bangunan, banyak warga mulai menunda membeli rumah karena harga makin sulit dijangkau.

Data Kantor Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan menunjukkan harga rumah baru pada triwulan I 2026 mengalami kenaikan 1,44 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.

Kenaikan terjadi di semua tipe rumah. Rumah tipe besar mengalami kenaikan tertinggi hingga 2,93 persen, disusul tipe kecil 1,85 persen dan tipe menengah 0,38 persen.

Kenaikan harga dipicu meningkatnya biaya material bangunan dan upah tenaga kerja. Kondisi itu membuat banyak pengembang menyesuaikan harga jual rumah baru.

Bagi masyarakat Balikpapan, terutama pasangan muda dan pekerja sektor swasta, situasi ini mulai terasa berat karena harga rumah bergerak naik lebih cepat dibanding kemampuan membeli.

Penjualan Rumah Baru Turun Drastis

Di tengah kenaikan harga tersebut, pasar properti justru melambat. Selama triwulan I 2026, penjualan rumah baru di Balikpapan hanya mencapai 72 unit. Angka itu turun tajam 55,56 persen dibanding periode yang sama tahun lalu yang mencapai 162 unit.

Penurunan paling dalam terjadi pada rumah tipe kecil yang selama ini menjadi pilihan utama masyarakat menengah. Penjualannya turun dari 109 unit menjadi hanya 36 unit. Sementara rumah tipe besar turun dari 32 unit menjadi 19 unit dan tipe menengah turun dari 21 unit menjadi 17 unit.

Kondisi ini menunjukkan banyak calon pembeli mulai berhitung ulang sebelum mengambil kredit rumah.

Bank Indonesia Balikpapan menilai penurunan penjualan dipengaruhi beberapa faktor, mulai dari pengeluaran masyarakat selama Ramadan dan Idulfitri hingga kenaikan harga rumah yang membuat konsumen memilih menunda pembelian.

Mayoritas pembeli rumah di Balikpapan juga masih mengandalkan Kredit Pemilikan Rumah (KPR). Pangsa penggunaan KPR tercatat sebesar 71 persen.

Namun angka ini turun dibanding tahun sebelumnya yang mencapai 87,7 persen. Penurunan itu mengindikasikan sebagian masyarakat mulai lebih berhati-hati mengambil cicilan jangka panjang.

Meski penjualan rumah turun, para developer masih optimistis pasar properti Balikpapan akan membaik.

Aktivitas pembangunan tahap II IKN, operasional Kilang Pertamina Balikpapan, hingga meningkatnya perjalanan bisnis mulai memberi dampak pada sektor properti dan hotel.

Bank Indonesia mencatat tekanan penurunan harga properti komersial mulai melandai. Sektor hotel bahkan mulai menunjukkan perbaikan seiring meningkatnya aktivitas pekerja dan kegiatan bisnis di Balikpapan.

Situasi ini memperlihatkan Balikpapan masih menjadi salah satu kota penyangga utama IKN yang terus bergerak.

Developer Mulai Ubah Strategi

Melihat kondisi pasar, sejumlah pengembang mulai mengalihkan fokus pada pembangunan rumah tipe kecil dan menengah. Tipe rumah tersebut dinilai lebih realistis dijangkau masyarakat.

Strategi promosi, desain rumah yang lebih efisien, hingga penyesuaian skema pembayaran juga mulai diperkuat untuk menjaga minat pembeli.

Ke depan, prospek properti Balikpapan dinilai masih cukup menjanjikan seiring pembangunan IKN, pertumbuhan industri hilirisasi, dan dukungan pembiayaan sektor properti dari Bank Indonesia.

Namun tantangan terbesar tetap sama: bagaimana menjaga harga rumah tetap terjangkau bagi warga lokal di tengah laju pembangunan yang terus meningkat.***

Tinggalkan Komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses