75 Pompa Air Dikerahkan, Kaltim Perkuat Kolaborasi Hadapi Karhutla dan Kekeringan
SAMARINDA, Inibalikpapan.com — Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur (Pemprov Kaltim) memperkuat penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta ancaman kekeringan melalui kolaborasi lintas sektor. Sebanyak 75 unit pompa air dari Kementerian Pertanian (Kementan) disalurkan ke sejumlah daerah untuk memperkuat ketersediaan air sekaligus mendukung penanganan dampak kekeringan.
Langkah tersebut mengemuka dalam Kunjungan Kerja Spesifik Komite II DPD RI bersama Wakil Menteri Lingkungan Hidup (Wamen LH) Diaz Hendropriyono di Kantor Gubernur Kaltim, Senin (14/9/2026).
Kunjungan tersebut diterima Sekretaris Daerah Provinsi Kaltim Sri Wahyuni yang mewakili Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud. Dalam pertemuan itu, Pemprov Kaltim menegaskan penanganan karhutla tidak dapat dilakukan oleh satu pihak, melainkan membutuhkan koordinasi pemerintah pusat, provinsi, kabupaten/kota hingga sektor swasta.
Penanganan Karhutla Tak Hanya Pemadaman
Sri Wahyuni mengatakan Pemprov Kaltim bersama seluruh pemerintah kabupaten/kota terus mengambil langkah cepat untuk mencegah kebakaran meluas.
Penanganan dilakukan mulai dari pemadaman titik api, pendekatan persuasif kepada masyarakat hingga pemutakhiran status keadaan darurat berdasarkan perkembangan di lapangan.
“Terkait kebakaran hutan dan lahan di Kaltim, pemerintah provinsi bersama kabupaten dan kota se-Kaltim terus bergerak dan melakukan berbagai tindakan agar kebakaran tidak meluas. Kami pastikan koordinasi berjalan cepat, mulai dari langkah pencegahan persuasif hingga penetapan status siaga maupun tanggap darurat sesuai kondisi lapangan,” kata Sri, dikutip dari laman Pemprov.
Menurutnya, dukungan pemerintah pusat menjadi bagian penting dalam memperkuat penanganan di daerah, terutama menghadapi ancaman kekeringan yang berdampak terhadap ketersediaan air dan produktivitas pertanian.
75 Pompa Air Disebar ke Daerah Rawan
Sebanyak 75 pompa air dari Kementan didistribusikan secara proporsional ke seluruh kabupaten/kota di Kaltim. Bantuan tersebut diarahkan untuk memperkuat irigasi dan sumber air di wilayah yang terdampak karhutla maupun kekeringan.
Rinciannya, Kutai Kartanegara mendapat 19 unit, Paser 12 unit, Kutai Barat 8 unit, Kutai Timur 7 unit, Penajam Paser Utara 6 unit, Samarinda 5 unit, dan Balikpapan 5 unit.
Selanjutnya, Mahakam Ulu mendapat 3 unit dan Bontang 2 unit. Sebanyak 2 unit lainnya disiapkan sebagai cadangan taktis.
Distribusi tersebut menjadi salah satu strategi untuk menjaga sumber air masyarakat sekaligus memperkuat kesiapsiagaan daerah menghadapi kondisi kering.
Karhutla Dekat Bandara APT Pranoto Ditangani Bersama
Kolaborasi lintas sektor juga terlihat dalam penanganan titik api di kawasan Desa Sungai Bawang, sekitar Bandara APT Pranoto Samarinda.
Pemprov Kaltim melalui perangkat daerah terkait bergerak melakukan pemadaman dengan dukungan sektor swasta, PT Lana Harita.
Sri menilai keterlibatan pihak swasta menunjukkan bahwa penanganan karhutla membutuhkan gotong royong, terutama ketika kebakaran terjadi di kawasan yang berdekatan dengan aset vital.
“Kerja sama ini adalah bukti konkret bahwa penanganan karhutla membutuhkan gotong royong. Dukungan pompa air dari Kementan sangat membantu menjaga sumber air irigasi warga, sementara sinergi bersama pihak swasta seperti di dekat area Bandara APT Pranoto memastikan aset vital dan jalur penerbangan tetap aman dari gangguan asap,” ujarnya.
Posko Terpadu dan Satu Data Hotspot
Ketua Komite II DPD RI Badikenita BR Sitepu bersama Wamen LH Diaz Hendropriyono mengapresiasi langkah responsif Pemprov Kaltim dalam menangani karhutla dan kekeringan.
Kolaborasi tersebut selanjutnya akan diperkuat melalui pembentukan Posko Terpadu dan sinkronisasi data satelit pemantau hotspot.
Data dari satelit Terra, NOAA-20 dan S-NPP akan disinkronkan untuk meningkatkan akurasi verifikasi titik panas di lapangan. Langkah ini diharapkan membuat penanganan karhutla sekaligus penyaluran bantuan pascabencana menjadi lebih tepat sasaran.
Pemprov Kaltim menegaskan sinergi lintas sektor menjadi kunci menghadapi ancaman karhutla dan kekeringan, sehingga respons terhadap titik api dapat dilakukan lebih cepat sekaligus menekan dampak terhadap lingkungan, masyarakat dan aktivitas ekonomi daerah.
Editor : Abraham Johan
BACA JUGA
