DKUMKMP Pastikan Produksi Tahu-Tempe Balikpapan Stabil, Meski Harga Kedelai Berfluktuasi

Kepala DKUMKMP Balikpapan Heruressandy

BALIKPAPAN,Inibalikpapan.com — Pelaku usaha tahu dan tempe di Kota Balikpapan masih berupaya mempertahankan stabilitas produksi di tengah ancaman kenaikan harga kedelai impor akibat melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. 

Meski tekanan biaya produksi mulai terasa, produsen memilih bertahan tanpa menaikkan harga jual secara signifikan demi menjaga daya beli masyarakat.

Kepala Dinas Koperasi, UMKM dan Perindustrian Kota Balikpapan, Heruresandy Setia Kesuma, mengatakan fluktuasi harga kedelai impor memang mulai berdampak terhadap pelaku industri kecil tahu dan tempe di Balikpapan.

“Secara umum harga bahan baku memang naik, dengan kisaran sekitar 1 hingga 5 persen dibandingkan tahun lalu dan bersifat fluktuatif setiap bulan. Namun pelaku usaha berupaya mempertahankan harga jual agar tetap terjangkau masyarakat,” ujar Heruressandy, Kamis (21/5/2026).

Menurutnya, sebagian besar pasokan kedelai di Balikpapan masih bergantung pada impor dari Amerika Serikat dan sejumlah negara lain. Kondisi tersebut membuat harga bahan baku sangat dipengaruhi perubahan kurs dolar dan biaya logistik internasional.

Saat ini, kebutuhan kedelai untuk industri tahu dan tempe di Balikpapan mencapai sekitar 400 hingga 450 ton per bulan. Tingginya kebutuhan tersebut sejalan dengan meningkatnya permintaan pasar di tengah pertumbuhan penduduk dan program pangan pemerintah.

Heruressany menjelaskan, para pelaku usaha sejauh ini belum memilih menaikkan harga jual produk. Sebagai langkah antisipasi, sebagian produsen lebih mempertimbangkan penyesuaian ukuran produk agar biaya produksi tetap terkendali.

“Pelaku usaha tetap berusaha menjaga produksi karena kebutuhan pasar terus meningkat. Kalau produksi turun, tentu akan memengaruhi pasokan di pasaran,” katanya.

Menurut dia, stabilitas produksi menjadi hal penting agar industri tahu dan tempe tetap bertahan di tengah dinamika ekonomi global. Pemerintah daerah juga terus mendorong penguatan sentra industri tahu-tempe sebagai bagian dari pengembangan UMKM pangan lokal.

Ada 100 Rumah Produksi

Saat ini terdapat sekitar 100 rumah produksi di sentra tahu-tempe Balikpapan, dengan sekitar 85 unit telah aktif beroperasi. Sementara sisanya masih terbuka untuk pelaku usaha baru yang ingin bergabung.

Selain itu, terdapat sekitar 12 industri kecil di luar sentra yang juga telah terdata pemerintah daerah. Namun sebagian masih menghadapi tantangan menjaga konsistensi produksi karena sistem usaha yang berbasis pesanan.

Heruressandy mengatakan distribusi bahan baku melalui koperasi, khususnya Primkopti, saat ini diprioritaskan bagi anggota yang berada di dalam sentra produksi. Langkah tersebut dilakukan untuk menjaga kestabilan pasokan kedelai dan memastikan aktivitas produksi tetap berjalan.

“Bahan baku dari koperasi hanya diperuntukkan bagi anggota. Ini untuk menjaga keberlangsungan produksi di dalam sentra agar tetap stabil,” ujarnya.

Pemerintah Kota Balikpapan berharap sinergi antara pelaku usaha, koperasi, dan program kemitraan terus diperkuat agar industri tahu-tempe mampu bertahan menghadapi gejolak harga bahan baku impor.

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, pelaku usaha berharap harga kedelai tidak mengalami lonjakan tajam sehingga mereka tidak perlu menaikkan harga jual maupun mengurangi kualitas produk yang selama ini menjadi kebutuhan masyarakat sehari-hari.(***/Adv Diskominfo Balikpapan)

Tinggalkan Komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses