Belajar dari Praktisi, Pertanian Organik Dinilai Lebih Tahan Hadapi El Nino dan Krisis Air
MOJOKERTO, inibalikpapan.com — Di tengah ancaman perubahan iklim dan cuaca ekstrem, pertanian organik mulai dilirik sebagai sistem pertanian yang lebih tahan menghadapi musim kering hingga fenomena El Nino.
Konsep itu dikembangkan di Desa Penanggungan, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto, oleh Direktur Brenjonk sekaligus pegiat petani organik, Slamet. Melalui sistem pertanian organik, lahan dinilai mampu menjaga kesuburan tanah sekaligus menyimpan cadangan air lebih baik dibanding pertanian konvensional.
Wawancara dengan Slamet berlangsung dalam rangka kegiatan Tinta Bank Indonesia (BI) Balikpapan 2026 yang digelar untuk peningkatan kapasitas wartawan ekonomi Balikpapan. Kondisi ini juga dirasa relevan Balikpapan yang kawasannya juga rentan mengalami kekeringan.
Menurut Slamet, kondisi tanah organik memiliki kemampuan menyerap dan menyimpan air lebih lama sehingga dinilai lebih kuat menghadapi musim kemarau panjang.
“Tanah organik itu gembur, hidup, dan mampu menyimpan air lebih lama. Ketika hujan turun, air terserap maksimal sehingga cadangan air tanah tetap terjaga,” kata Slamet.
Ia menyebut kondisi tanah organik mirip kawasan hutan lindung yang tetap lembap dan kaya unsur hayati alami. Karena itu, lahan tidak mudah kering meski cuaca panas berlangsung lama.
Pertanian Organik Dinilai Lebih Adaptif Hadapi Cuaca Ekstrem
Menurut Slamet, sistem pertanian organik tidak hanya menjaga produktivitas lahan, tetapi juga membantu memperbaiki struktur tanah yang rusak akibat penggunaan bahan kimia jangka panjang.
Selama hampir 18 tahun mengembangkan pertanian organik, ia menyebut masa balik modal atau break even point (BEP) umumnya tercapai pada tahun ketiga. Setelah kondisi tanah kembali sehat, biaya produksi justru lebih rendah dibanding masa awal pengelolaan.
Pendekatan tersebut dinilai membuat pertanian organik lebih efisien dalam jangka panjang sekaligus menjaga ketahanan pangan di tengah ancaman perubahan iklim.
Selain menerapkan sistem organik, pengelolaan lahan di Brenjonk juga menggunakan prinsip zero waste atau tanpa limbah dengan memanfaatkan sumber daya lokal secara berputar di dalam sistem pertanian.
Teknologi Drone Mulai Digunakan Petani Organik

Di sisi lain, pertanian organik di Mojokerto juga mulai memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan efisiensi kerja petani.
Salah satu teknologi yang digunakan yakni drone penyemprot pertanian. Drone tersebut merupakan bantuan Bank Indonesia pada 2022 dan dinilai mampu memangkas biaya operasional hingga 40 persen dibanding metode konvensional.
“Drone membantu pekerjaan berat petani, terutama yang sudah lanjut usia. Penyemprotan jadi lebih cepat dan efisien tanpa harus memanggul tangki,” ujarnya.
Meski belum memiliki aplikasi digital khusus untuk memantau produksi maupun panen, penggunaan drone disebut menjadi langkah awal menuju konsep smart farming di kawasan tersebut.
Produk Organik Sudah Masuk Pasar Modern
Di lahan organik Brenjonk, berbagai komoditas dibudidayakan mulai dari padi merah, padi hitam, padi putih, hingga pandan wangi. Selain itu, ada sekitar 45 jenis sayuran lokal maupun impor seperti kailan dan rukola.
Hasil panen mereka kini telah dipasarkan ke sejumlah supermarket, hotel, hingga restoran organik di berbagai daerah. Beberapa jaringan ritel seperti Papaya, Ranch Market, Hokky, hingga restoran organik di Surabaya menjadi mitra distribusi hasil panen mereka.
Menurut Slamet, perkembangan pasar tersebut ikut membuat generasi muda mulai melihat pertanian sebagai sektor usaha yang memiliki peluang ekonomi.
“Anak-anak muda sekarang melihat pertanian bukan sekadar mencangkul. Ada teknologi, ada produk turunan, ada peluang usaha,” katanya.
Ia menilai pertanian organik saat ini tidak lagi sekadar metode bercocok tanam, tetapi mulai berkembang menjadi bagian dari upaya menjaga kesehatan lingkungan, ketahanan pangan, dan keberlanjutan hidup masyarakat di tengah ancaman krisis iklim global.
BACA JUGA
