Hotspot Karhutla Melonjak 142 Persen, Total 1.437 Titik, Kalimantan Tertinggi 1.004 Titik
JAKARTA, Inibalikpapan.com — Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali meningkat tajam. Kementerian Kehutanan (Kemenhut) mencatat 1.437 hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi (high confidence) terdeteksi secara nasional hingga Senin (14/9/2026) malam.
Angka tersebut melonjak dari 592 hotspot pada hari sebelumnya. Artinya, dalam sehari terjadi tambahan 845 titik atau meningkat sekitar 142 persen.
Kalimantan menjadi wilayah yang paling tingga total 1.004 titik. Dari enam provinsi prioritas pengendalian karhutla, Kalimantan Tengah mencatat hotspot terbanyak dengan 689 titik, melonjak drastis dari 89 titik sehari sebelumnya.
Kalimantan Barat menyusul dengan 203 titik, naik dari 14 titik. Kemudian Sumatera Selatan 116 titik dari 49 titik dan Kalimantan Selatan 112 titik dari 28 titik.
Sementara itu, Jambi mencatat penurunan dari 17 menjadi sembilan hotspot. Riau masih nihil hotspot high confidence.
Data tersebut bersumber dari sistem SiPongi Kementerian Kehutanan yang menggunakan pemantauan satelit NASA Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA-20 hingga pukul 21.05 WIB.
Kementerian Kehutanan bersama tim gabungan kini memperkuat operasi pengendalian karhutla melalui pemadaman darat, water bombing, patroli udara, groundcheck, pembasahan lahan, hingga Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).
Kalteng Jadi Titik Paling Mengkhawatirkan
Lonjakan hotspot di Kalimantan Tengah menjadi perhatian utama karena wilayah tersebut menyumbang hampir separuh dari total hotspot high confidence nasional dalam pemantauan terakhir.
Kementerian Kehutanan menegaskan, data hotspot satelit tidak otomatis berarti satu titik merupakan satu kejadian kebakaran. Hotspot merupakan indikasi anomali suhu permukaan dan satu kejadian kebakaran dapat menghasilkan beberapa titik deteksi.
Karena itu, setiap indikasi tetap harus dikonfirmasi melalui groundcheck dan kondisi aktual di lapangan.
Peningkatan hotspot juga terjadi ketika kondisi atmosfer di sebagian wilayah Indonesia masih relatif kering.
BMKG mencatat sekitar 81 persen Zona Musim telah memasuki musim kemarau untuk periode 15-21 September. Sebanyak 1.637 titik pengamatan juga mengalami Hari Tanpa Hujan kategori ekstrem, yakni lebih dari 60 hari berturut-turut.
Citra Satelit Himawari-9 pada 14 September turut menunjukkan sebaran asap di sejumlah wilayah Sumatera, Kalimantan, Maluku, dan Papua.
Meski demikian, peluang hujan masih ada. Pada 15-17 September, hujan dengan intensitas sedang masih berpeluang terjadi di sejumlah wilayah, termasuk Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah.
53 Armada Udara Disiagakan
Mengantisipasi kondisi tersebut, pemerintah menyiagakan 53 armada udara untuk mendukung operasi pengendalian karhutla di enam provinsi prioritas.
Sebanyak 34 armada dikerahkan untuk operasi water bombing, sedangkan 19 armada lainnya digunakan untuk patroli udara dan mendukung OMC.
Operasi Modifikasi Cuaca di Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah juga telah dilaksanakan hingga 14 September. OMC diarahkan antara lain untuk membantu pembasahan gambut dan mendukung pengendalian karhutla.
Pelaksanaan OMC berikutnya akan disesuaikan dengan kebutuhan di lapangan dan ketersediaan awan yang memenuhi persyaratan meteorologis.
Penguatan operasi udara juga mendapat dukungan dari Pemerintah Jepang melalui tiga helikopter CH-47 Chinook.
Kementerian Pertahanan, TNI, dan delegasi Jepang telah melakukan koordinasi kesiapan operasi di Lanud Supadio, Kalimantan Barat, pada 13 September.
Koordinasi mencakup kesiapan helikopter, wilayah dan jalur penerbangan, mekanisme koordinasi, serta prosedur operasional agar tiga Chinook dapat terintegrasi dengan operasi pengendalian karhutla pemerintah.
Kualitas Udara Sejumlah Wilayah Memburuk
Di tengah peningkatan hotspot, kondisi kualitas udara di sejumlah wilayah Sumatera dan Kalimantan juga menjadi perhatian.
Pemantauan PM2,5 menunjukkan sebagian besar wilayah Indonesia masih berada pada kategori baik hingga sedang. Namun, beberapa area terpantau masuk kategori tidak sehat hingga sangat tidak sehat, bahkan terdapat lokasi di Kalimantan yang berada pada kategori berbahaya.
Kondisi jarak pandang juga berbeda antarwilayah.
Di Pontianak, jarak pandang sekitar 1,2 kilometer dengan kondisi berasap. Jambi sekitar lima kilometer dengan kondisi udara kabur. Sementara Palangka Raya sekitar sembilan kilometer, Pekanbaru tujuh kilometer, serta Palembang dan Banjarmasin mencapai 10 kilometer atau lebih.
Perbedaan kondisi tersebut menunjukkan bahwa penanganan karhutla tidak cukup hanya mengandalkan jumlah hotspot. Pemerintah perlu menggabungkan data hotspot dengan hasil groundcheck, kondisi api, sebaran asap, cuaca, arah angin, kualitas udara, serta jarak pandang.
Masyarakat Diminta Tidak Membakar Lahan
Kementerian Kehutanan mengimbau masyarakat di wilayah terdampak asap untuk memantau perkembangan kualitas udara. Jika kondisi memburuk, masyarakat diminta mengurangi aktivitas di luar ruangan dan menggunakan masker ketika harus beraktivitas di luar.
Perhatian khusus juga diberikan kepada anak-anak, ibu hamil, lansia, serta masyarakat dengan penyakit pernapasan atau penyakit kronis yang lebih rentan terhadap paparan partikel halus dari asap karhutla.
Di tengah kondisi atmosfer yang masih kering, masyarakat dan pelaku usaha kembali diingatkan tidak membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar.
Arahan Presiden Prabowo Subianto juga menekankan agar setiap indikasi hotspot segera direspons dan tidak dibiarkan berkembang menjadi kebakaran.
Selain pencegahan sejak tingkat desa, pemerintah juga diminta menindak serius dugaan pembakaran yang dilakukan secara sengaja, termasuk apabila terdapat indikasi keterlibatan korporasi.
Editor : Abraham Johan
BACA JUGA
