Produksi Minyak Indonesia Masih Jauh dari Kebutuhan, PHI Ajak Media Bangun Pemahaman Publik

Produksi minyak Indonesia saat ini baru mencapai sekitar 605 ribu barel per hari, sementara kebutuhan nasional telah menembus 1,6 juta barel per hari.
Manager Communication Relations & CID PHI, Dony Indrawan, memberikan paparan dalam Media Gathering PHI di Balikpapan, Kamis (2/7/2026). Foto: PHI

BALIKPAPAN, Inibalikpapan.com – Produksi minyak Indonesia saat ini baru mencapai sekitar 605 ribu barel per hari, sementara kebutuhan nasional telah menembus 1,6 juta barel per hari. Kesenjangan yang masih lebar ini membuat setiap barel minyak hasil produksi dalam negeri memiliki nilai strategis untuk mengurangi ketergantungan pada impor.

Kondisi tersebut menjadi salah satu isu yang dibahas PT Pertamina Hulu Indonesia (PHI) bersama jurnalis dari berbagai media dalam kegiatan Media Luncheon bertajuk Merajut Dialog, Membangun Sinergi di Balikpapan, Kamis (2/7/2026).

Manager Communication Relations & CID PHI, Dony Indrawan, mengatakan industri hulu migas kini menghadapi tantangan yang semakin besar. Pasalnya, sebagian besar lapangan minyak telah memasuki tahap secondary hingga tertiary recovery, sehingga perusahaan harus mengoptimalkan teknologi, investasi, dan kelancaran operasi untuk menjaga produksi tetap stabil.

“Di tengah berbagai tantangan tersebut, dukungan dari seluruh pemangku kepentingan, termasuk masyarakat di sekitar wilayah operasi, sangat penting untuk menjaga kelancaran dan keberlanjutan operasi hulu migas,” ujar Dony.

Menurut Dony, selisih antara kebutuhan dan produksi nasional membuat setiap tambahan produksi memiliki dampak langsung terhadap upaya menekan impor minyak.

Ia menjelaskan, apabila produksi dalam negeri terus menurun, kebutuhan impor akan semakin meningkat sehingga berpotensi menambah beban devisa negara.

Karena itu, PHI terus memperkuat pemahaman masyarakat tentang industri hulu migas melalui penyampaian informasi yang akurat dan berimbang.

“Kalau produksi menurun, maka kebutuhan impor akan semakin besar dan berdampak pada meningkatnya beban devisa negara,” katanya.

Media Dinilai Berperan Membangun Pemahaman Publik

Selain memaparkan proses bisnis hulu migas mulai dari eksplorasi hingga produksi, PHI juga menekankan pentingnya peran media dalam menyampaikan informasi yang faktual kepada masyarakat.

Analis Formalitas dan Komunikasi SKK Migas Perwakilan Kalimantan dan Sulawesi (Kalsul), Khusnul Istiqomah, mengatakan media menjadi mitra strategis dalam menjelaskan berbagai upaya industri hulu migas menjaga ketahanan energi nasional.

“Melalui pemberitaan yang akurat dan informatif, masyarakat dapat mengetahui berbagai upaya dan kinerja yang kami lakukan dalam mendukung ketahanan energi nasional,” ujarnya.

Ia berharap sinergi antara media, SKK Migas, dan PHI terus terjalin sehingga masyarakat memperoleh informasi yang utuh mengenai tantangan sekaligus kontribusi sektor hulu migas.

PT Pertamina Hulu Indonesia merupakan bagian dari Subholding Upstream Pertamina yang mengelola wilayah operasi Regional 3 Kalimantan, meliputi Zona 8, Zona 9, dan Zona 10 dengan menerapkan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG).

Sepanjang 2025, PHI membukukan produksi sekitar 58 ribu barel minyak per hari (MBOPD) dan 630 juta standar kaki kubik gas per hari (MMSCFD). Bersama SKK Migas, perusahaan terus menjalankan operasi yang selamat, efisien, andal, patuh, dan ramah lingkungan untuk mendukung ketahanan energi nasional.

Bagi Kalimantan Timur, keberlangsungan produksi migas tidak hanya berkaitan dengan pasokan energi nasional, tetapi juga berpengaruh terhadap aktivitas ekonomi daerah, penyerapan tenaga kerja, serta keberlanjutan investasi sektor energi yang menjadi salah satu penopang pembangunan, termasuk di kawasan penyangga Ibu Kota Nusantara (IKN). Informasi lebih lanjut tentang PHI tersedia di https://phi.pertamina.com.

Sumber: Pertamina Hulu Indonesia
Editor: Rizki

Tinggalkan Komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses